MAKNA SEBUAH KEMISKINAN INJILI

DAILY WORDS, RABU, 22 MEI 2024
PEKAN VII MASA BIASA
BY RP. PIUS LAWE, SVD

BACAAN I : YAK 4: 13– 17
MAZMUR : Mzm 49: 2– 3. 6 – 7. 8 – 10.11
INJIL : MRK 9: 38 –40

Sinopsis : Kemiskinan Injil sesuai sari firman hari ini: berusaha semaksimal mungkin sambil percayakan semuanya pada penyelenggaraan Allah; tidak possessive pada harta benda duniawi; penuh penghargaan pada apa yang diyakini suci dan benar pada agama dan keyakinan lain


@ Umumnya, kemiskinan lebih kita kaitkan dengan ketidakcukupan dalam kebutuhan-kebutuhan dasariah: makan, pakaian dan tempat tinggal (pangan, sandang, papan). Ya, dalam hubungan dengan arti kemiskinan di atas, kita semua sepakat jika angka kemiskinan umat manusia di planet ini sangat tinggi dibandingkan dengan sekelompok elite yang kita pertimbangkan sebagai “orang kaya” atau orang yang berkecukupan. Saking berkecukupan, mereka tidak lagi memikirkan tentang sandang, pangan dan papan. Yang mereka pikirkan adalah bagaimana MENIKMATI HIDUP dari apa yang lebih. Ada yang menikmatinya dengan MEMBERI atau MEMBAGI kepada orang yang berkekurangan/miskin apa yang lebih. Ada yang menikmatinya dengan menyisihkan sedikit untuk menikmati hidup lewat liburan, tamasya, dst. Refleksiku hari ini bukan semuanya dalam hubungan dengan “kemiskinan” dalam artian di atas.

@ Kemiskinan yang hendak saya soroti secara agak panjang lebar dalam goresan hari ini adalah sebuah KEMISKINAN INJILI. Hal ini lebih berhubungan dengan SUASANA atau SIKAP HATI. Pertama , berdasarkan firman Tuhan dari surat Rasul Yakobus 4: 13 – 17, KEMISKINAN lebih berhubungan dengan SIKAP HATI terhadap segala yang terjadi di dalam hidup seseorang dalam kaitannya dengan PENYELENGGARAAN ALLAH/ Divine Providence. Saya menghayati kemiskinan ketika saya, dalam rencana apa pun di dalam hidup, selalu berprinsip: JIKA TUHAN MENGHENDAKINYA. Inilah yang sungguh ditekankan St. Yakobus di dalam suratnya. Orang biasa mengungkapkan hal ini: manusia boleh merencanakan tetapi Tuhan yang menentukannya. Dalam hal ini, hendaknya dihindari dua ekstrim berikut ini: menjadi passive dan memasrahkan segalanya total pada penyelenggaraan Allah tanpa ada usaha sedikit pun atau menjadi begitu stubborn /keras kepala pada pendirian atau rencana yang telah tertuang di dalam agenda seseorang atau kelompok tetentu. Sikap hati yang miskin mungkin lebih memilih keseimbangan/balance di antara kedua ekstrim di atas. Sering orang berprinsip demikian: I will do my best and God will do the rest. (saya akan berusaha yang terbaik dan Tuhan akan mengerjakan yang sisanya).

@Kedua, kemiskinan yang berhubungan dengan Sikap Hati terhadap segala macam harta duniawi/kekayaan. Pemazmur hari ini mengingatkan kita akan KEKUASAAN ALLAH yang melampaui kesementaraan/kefanaan segala sesuatu yang manusia miliki. Artinya kenyamanan, keselamatan sesungguhnya bukan terletak pada HARTA DUNIAWI. Bahkan harta duniawi membuat hati kita sungguh terpaut padanya dan kita sulit untuk mengarahkan diri pada Allah dan sesama. Pemazmur menegaskan bahwa manusia hendaknya menyandarkan diri pada sesuatu yang kekal. Dan yang kekal itu hanya ada di dalam Allah. “ Mengapa aku takut pada hari-hari celaka pada waktu aku dikepung oleh kejahatan para pengejarku, yang percaya pada harta bendanya, dan memegahkan diri karena banyaknya kekayaan mereka?” ( Mzm 49: 6 – 7) Seruan Pemazmur ini mengingatkan kita untuk takut pada hal yang benar bukan pada kekuatan-kekuatan yang bersifat sementara termasuk harta duniawi. Karena, baik yang punya cukup harta maupun yang tidak berkecukupan, semuanya akan masuk dalam liang kubur. Tentang nasib hidup sesudah kematian, ya hanya Allah yang tahu. “ Tidak seorang pun dapat membebaskan diri, atau memberikan tebusan kepada Allah ganti nyawanya! Terlalu mahallah harga pembebasn nyawanya, dan tidak terjangkau untuk selama-lamanya kalau ia ingin hidup abadi dengan tidak melihat liang kubur.” (Mzm 49: 8 -10) Dalam hal ini, sebagai imam dan biarawan misionaris, saya belajar untuk tidak possessive pada harta benda duniawi, pada pengalaman dan ilmu apa pun yang bisa saya bagi, pada waktu dan tenaga yang Tuhan berikan. Semuanya mesti saya gunakan untuk kebaikan bersama dan keselamatan sesama. Pada point ini, saya menyampaikan kekaguman dan rasa terimakasihku kepada semua donatur/para penderma yang, di dalam diam, senantiasa membantu orang-orang miskin dan bersengsara, serta membantu Gereja dan institusi agama manapun untuk bisa melayani umat manusia. Thank you very much for your generosity. Only God who counts and will reward you with His heavenly blessings. (Terimakasih berlimpah untuk kemurahan hatimu. Hanya Tuhan yang dapat memperhitungkan dan mengganjarimu dengan segala berkat surgawi).

@ Ketiga , kemiskinan yang berhubungan dengan hati yang terbuka serta penuh penghargaan terhadap semua keyakinan, sikap dan tindakan yang bertujuan BAIK. Artinya, saya tidak extremely menjadi begitu fanatic dengan kebenaran yang saya yakini dan meng-sub-ordinasikan/merendahkan keyakinan yang dimiliki orang lain sejauh semuanya bermuara pada KEBAIKAN BERSAMA/ bonum commune . Sikap hati yang miskin artinya tidak menjadi apriori dengan keyakinan sendiri dan melihat orang atau kelompok atau suku atau golongan atau agama lain sebagai yang “kurang” atau “tidak” benar. Kalau semua keyakinan atau agama atau golongan mempunyai tujuan yang sama yaitu membawa manusia dekat dengan YANG ILAHI, mengapa dipertentangkan? Hendaknya kita ingat akan Ajaran Resmi Gereja yang tertuang di dalam Nostra Aetate yang menyatakan dengan tegas penghormatan terhadap berbagai agama bukan Kristiani. Di dalam Nostra Aetate artikel no. 2 dikatakan bahwa Gereja dengan tulus menghormati apa pun yang dalam agama-agama lain dipandang benar dan suci. Sikap ini merupakan cerminan sebuah kemiskinan injili artinya tidak menjadi fanatic dan memandang rendah keyakinan atau apa yang dianggap benar di dalam kelompok agama yang lain. Rasul Yohanes menegaskan demikian, “.. barangsiapa mengasihi Allah, ia harus mengasihi saudaranya” (I Yoh 4: 21).

@ Hari ini, Tuhan mengingatkan saya, agar sebagai imam, hendaknya saya membangun suatu semangat kemiskinan yang benar sesuai dengan semangat injil. Hendaknya saya memercayakan dan memasrahkan banyak hal ke dalam penyelenggaraan Ilahi dan tidak menyombongkan diri dengan agenda serta target pribadi; hendaknya saya memberi diri yaitu tenaga dan waktu untuk kepentingan dan kebahagiaan sesama dan tidak mengikatkan diri secara erat dengan harta duniawi; hendaknya saya terbuka dan penuh penghargaan terhadap apa yang dianggap benar dan suci oleh agama atau keyakinan lain. Semoga saudara dan saudariku pun mempunyai komitmen yang sama. Kita saling mendoakan! Tuhan memberkati! Have a wonderful day filled with love and mercy. Warm greetings from Masohi manise…… padrepiolaweterengsvd 🙏🏽🙏🏽🙏🏽🙏🏽🙏🏽🙏🏽