Amboina Diocese

Duc In Altun

KOMUNITASKU-TEMPAT BERSEMAYAM HATI SANG GEMBALA AGUNG

Bagikan kepada teman-teman anda ....

DAILY WORDS, JUMAT, 24 JUNI 2022
HR HATI YESUS YANG MAHAKUDUS
PEKAN BIASA XII
BY RP. PIUS LAWE, SVD

BACAAN I : YEH 34: 11-16
MAZMUR : MZM 23:1-3a.3b-4.5.6
BACAAN II : ROM 5:5b-11
INJIL : LUK 15: 3-7

@ Sepi-senyap melanda pastoran dua hari terakhir ini sejak saya bersama beberapa anggota paroki mengantar Pastor Alfons Hayon, SVD (Opa) & Fr. Bogdan, SVD di bandara internasional Pattimura, Ambon. Opa akan menjalani liburan selama hampir dua bulan sekaligus merayakan 50 tahun imamat di kampung halaman, Ritaebang, Solor Barat, Flores Timur. Fr. Bogdan, SVD kembali ke almamater Rumah Induk Ledalero, Maumere. Sepi nan senyap semakin bertambah ketika pagi ini kami menghantar ke pelabuhan Amahai, Fr. Never, SVD yang juga sedang dalam perjalanan kembali ke Rumah Induk Ledalero setelah menikmati setahun Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di paroki Karlomen, Kesui. Saya pribadi, dan umumnya kami semua yang ada di Pastoran merasa sangat kehilangan. Rasanya seperti sedang mengalami sebuah suasana duka. Perasaan ini hanya mungkin ada oleh karena SOLID-NYA hidup berkomunitas…

@ Ya, inilah kekuatan komunitas. Inilah kekuatan hidup bersama. Komunitas yang kondusif bagai surga yang sedang kami tenun di atas persada ini. Komunitas dan suasana persaudaraan adalah bagai “sombar”/tempat teduh bagi seorang agen pastoral yang kadang sedang disengat hangatnya suka duka pelayanan. Komunitas, dia tempat bersemayam Sang Gembala yang baik, yang mengumpulkan kawanan dombanya, yang mendengar keluh kesah kawanannya, yang memberi kehangatan di kala dinginnya hospitalitas di dalam pelayanan, yang memberi kesejukan di kala panasnya situasi medan pelayanan yang datang melanda silih berganti, yang memberi kepuasan dikala dahaga cinta dan perhatian menerpa, yang membuat rasa lapar hilang lenyap ketika tawa ria menghiasi relasi satu dengan yang lain. This is the power of living in a community!!!!

@ Komunitas yang hangat penuh persaudaraan itu hanya ada karena dikuasai, diresapi dan diwarnai serta dibumbui oleh SEBUAH HATI KUDUS SEORANG GEMBALA AGUNG. Kami betah, karena di sini, di tempat ini kami semua disediakan tempat penggembalaan kawanan domba yang baik dan nyaman. Di sini, di tempat ini, ada rumput kasih persaudaraan yang hijau menawan bak berada di atas gunung-gunung Israel yang tinggi. Ketika kami tak menemukan kasih di suatu tempat atau di sebuah hati, komunitas menjadi tempat labuh hati yang gunda gulana. Di komunitas ini, kami temukan di dalam diri setiap anggota, HATI TUHAN yang siap sedia membimbing kami ke mata air yang tenang dan menyegarkan, dan ke padang rumput yang hijau. Ketika kami temukan tantangan dan rintangan bak di lembah kekelaman, kami tidak takut bahaya karena kami tahu, HATI SANG GEMBALA YANG MENGHUNI KOMUNITAS KAMI, selalu beserta kami. Di komunitas ini, kami dapati HATI SANG GEMBALA yang senantiasa rela berlangkah bersama kami dalam untung dan malang. Di dalam komunitas ini, kami sungguh merasa seperti sedang berdiam di dalam rumah Tuhan. Ya, karena HATI YESUS SANG GEMBALA sungguh menguasai komunitas ini.

@ Komunitas mempunyai kekuatan positif yang luar biasa. Seperti Sang Gembala yang pergi meninggalkan sembilan puluh sembilan ekor domba dan mencari satu ekor yang hilang, komunitas tidak akan membiarkan satu dari anggotanya pun hilang atau keluar dari perhatian bersama. Tidak ada anggota yang terlupakan. Semua makan dari periuk yang sama. Minum dari air galon yang sama. Mandi dan mencuci dari sumber air sumur bor yang sama. Menikmati sayur kelor, kangkung, bunga pepaya, terung bakar dan ikan bakar bersama. Kalau ada rejeki dari kebaikan umat, semua menikmati tanpa ada beda dia senior atau junior, atau dia biarawan atau awam, semua sama-sama menikmatinya. Di dalam komunitas ini, tidak ada perbedaan suku dan bahasa. Semua berbicara dalam bahasa cinta. Semua merasa dan mengalami dari suku kristiani yang sama. Apa pun besar kecilnya rejeki yang kami peroleh,di sana kami selalu cicipi bersama. Inilah yang lazimnya di serukan dalam dialek orang Ambon: seni ido orang basaudara. Semuanya berkat PANTULAN HATI TERKUDUS TUHAN YESUS. ⅞

@ Dari semua gambaran tentang komunitas pastoran (KOMPAS) di atas, ada hal yang mestinya kami sadari: pertama, hidup bersama secara harmonis akan menjadi SOMBAR/TEMPAT TEDUH yang baik baik setiap anggota komunitas; kedua, Hati Yesus Sang Gembala yang Baik menjadi sumber kekuatan dan inspirasi bagi para anggota komunitas. Di sana, ada saling pengertian, ada saling maaf memaafkan, ada saling peduli satu akan yang lain; ketiga, suasana egaliter/kesederajatan dalam hal-hal tertentu mestinya dijaga. Tidak ada kelas-kelas atau kelompok elite and non elite di dalam komunitas; keempat, seperti Sang Gembala Baik-Yesus Kristus, setiap anggota mesti berkorban untuk kebaikan bersama. Setiap individu berusaha mengalahkan ego-nya demi sebuah kebersamaan. Mari kita saling mendoakan, agar HATI YESUS HIDUP DALAM HATI SEMUA UMAT MANUSIA & DALAM SETIAP KOMUNITAS KITA.

SELAMAT PESTA HATI MAHAKUDUS TUHAN YESUS teristimewa bagi sama saudara dari kongregýasi MSC yang merayakan pestanya, hari ini. Have a blessed day filled with a loving and forgiving heart. God bless you all❤❤❤❤🙏🙏🙏

MENJADI YOHANES PEMBAPTIS DI ERA DIGITAL

Bagikan kepada teman-teman anda ....

DAILY WORDS, KAMIS, 22 JUNI 2022
HR KELAHIRAN ST. YOH PEMBAPTIS
PEKAN BIASA XII
BY RP. PIUS LAWE, SVD

BACAAN I : YES 49: 1-6
MAZMUR : MZM 139:1-3.13-14ab.14c-15
BACAAN II : KIS 13:22-26
INJIL : LUK 7: 57 -66.80

@ Yohanes, nabi yang merintis dan menyiapkan jalan bagi Tuhan. Warta utamanya adalah PERTOBATAN semua umat manusia untuk mempersiapkan jalan bagi datangnya Tuhan. Teriakan Yohanes terkesan PEDAS bagi yang mendengarkannya. Sungguh, dia adalah seorang nabi besar. Nabi identik dengan kritik sosial keagamaan. Tentu teriakan Yohanes berisi kritik sosial yang pedas, tegas, masuk menerobos relung hati para pebdengarnya. Benar apa yang dikatakan nabi Yesaya, “Ia telah membuat mulutku sebagai pedang yang tajam….Ia telah membuat aku menjadi anak panah yang runcing…”. Ya, Yohanes benar-benar menghidupi identitasnya. Seruannya keras tanpa tedeng aling-aling.

@ Kehadiran dan peran Yohanes Pembaptis bukanlah sebuah kehadiran dan peran yang lahir dari suatu kebetulan. Bukan juga sebuah ambisi pribadi atau fanatisme kelompok. Kehadiran dan perannya telah direncanakan oleh Allah. Seruan nabi Yesaya dan Pemazmur yang kita baca atau dengar hari ini menegaskan bahwa Yohanes Pembaptis dan kehadiran serta perannya telah direncanakan Allah. “Tuhan telah membentuk aku sejak dari kandungan untuk menjadi hamba-Nya..” (Yes 49:5). ” Engkaulah yang membentuk buah pinggangku. Engkaulah yang menenun aku dalam kandungan ibuku..” ( Mzm 139:13). Yakinlah, dari kata-kata nabi Yesaya dan Pemzmur, kehadiran dan peran Yohanes merupakan hasil rancangan Allah, bukan ambisi pribadi atau kehendak kelompok tertentu. Keterpanggilan Yohanes Pembaptis merupakan sebuah anugerah dan bukan hasil pemilihan demokratis atau penentuan oleh sebuah otoritas sosial kemasyarakatan atau keagamaan tertentu. Ini sebuah rancangan ilahi.

@ Satu hal yang sungguh menggelitik hati kita adalah soal PERAN Yoh Pembaptis. Dia hanyalah perintis, yang mempersiapkan jalan bagi datangnya Sang Emanuel. Dia bukanlah Mesias. Dia menyiapkan jalan bagi Mesias. Dia CUMA seorang HAMBA yang rendah hati, tidak mempopulerkan dirinya sendiri. St. Lukas menulis secara jelas peran Yohanes Pembaptis dalam kata-kata ini, “Aku bukanlah Dia yang kamu sangka, tetapi Dia akan datang kemudian dari pada aku. Membuka tali kasut dari kaki-Nya pun aku tidak layak.” Inilah cerminan posisi yang amat jelas dari Yohanes Pembaptis. Dia menjadi kecil supaya Yesus sang Mesias menjadi besar. “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.” (Yoh 3:30) . Spirit dan prinsip Yohanes Pembaptis adalah supaya Yesus menjadi makin besar dan dia menjadi semakin kecil. Inilah suatu kebesaran jiwa sang nabi perintis, yaitu siap menjadi semakin kecil, Yesus menjadi semakin besar. Yohanes tidak membutuhkan pangkat atau kedudukan, kekayaan dunia, dst. Dia tetaplah seorang hamba sahaya yang militan dalam isi warta kenabian dan seorang figur rohani yang lebih suka bermain di belakang layar. Dia tidak membutuhkan atau mengharapkan respek. Dia tidak gila hormat. Dia tidak mengimpikan popularitas duniawi.

@ Berkaitan dengan kehadiran dan peran Yohanes Pembaptis di atas, satu pertanyaan muncul dari dalam benakku demikiam, “Adakah Yohanes-Yohanes Pembaptis yang baru di era digital ini?” Ini sebuah pertanyaan kontekstual, yang sungguh menantang setiap agen pastoral baik imam, biarawan/i, para pewarta yang banyak terlibat di dunia medsos seperti youtube, twitter, instagram, facebook, whatsapp, dst. Banyak pemimpin agama dan pewarta yang secara kreatif mewartakan Firman Tuhan lewat medsos. Kita bersyukur dan berbangga akan kemajuan yang sangat pesat ini. Namun, apakah kita sungguh menggunakan media ini secara kreatif demi memuliakan Allah atau sebaliknya mengejar mamon dan popularitas pribadi? Apakah melalui media digital ini, warta perdamaian dan cinta kasih yang kita dengungkan atau hanya sekedar sebuah aktifitas sensasional yang berusaha mempopularitaskan diri dan mengejar target followers untuk menghasilkan uang sebanyak-banyaknya demi memperkaya diri? Atau ini sekedar sebuah wadah untuk menyebarkan fanatisme ajaran agama dan secara tidak sadar mengsubordinasikan ajaran agama dan keyakinan yang lain?

@ Pada pesta Kelahiran Yohanes Pembaptis ini, saya mengajak kita sekalian untuk berbenah diri, memohon Roh Kudus untuk memurnikan motivasi dari setiap penggunaan sarana media sosial di era digital ini. Semoga apa pun yang kita lakukan secara kreatif di era digital ini adalah hanya untuk KEMULIAAN ALLAH. Ingat, IA HARUS MAKIN BESAR TETAPI AKU HARUS MAKIN KECIL. Have a good evening filled with a humble and loving heart….God bless you all❤❤❤❤🙏🙏🙏🙏🙏

KIAT MENGENAL NABI YANG BENAR

Bagikan kepada teman-teman anda ....

DAILY WORDS, RABU, 22 JUNI 2022
PEKAN BIASA XII
BY RP. PIUS LAWE, SVD

BACAAN I : II RAJ 22: 8-13;23:1-3
MAZMUR : MZM 119:33.34.35.37.40
INJIL : MAT 7: 15 -20

@ “Aku telah menemukan Kitab Taurat di Rumah Tuhan”. Itulah kata-kata yang keluar dari Imam Besar Hilkia kepada Safan-si panitera Raja Yosia. Selanjutnya, Safan membaca kitab itu di hadapan Raja Yosia. Mendengar isi Taurat yang Safan bacakan, Raja Yosia terkejut dan mengoyakkan pakaiannya. Sudah lama, kitab Taurat ini tidak dibacakan atau diperkenalkan nenek moyang mereka. Lalu Raja Yosia meminta Imam Besar Hilkia dan beberapa rekannya untuk berdoa meminta petunjuk dari Tuhan sesuai isi Taurat itu. Sadarlah Raja Yosia akan kelalaian bangsa itu, yang telah lama berjalan tidak sesuai dengan Taurat Tuhan. Begitu banyak pengaruh luar termasuk nabi-nabi palsu dan budaya asing yang telah membawa penyesatan bagi orang Yehuda dan penduduk Yerusalem. Raja Yosia yang tergerak oleh bunyi dan isi Kitab Taurat ini, memerintah agar mengumpulkan seluruh penduduk Yehuda dan Yerusalem untuk memperdengarkan bunyi Kitab Taurat dimaksud.

@ Pada akhirnya, dibawah pimpinan Raja Yosia, mereka melakukan pembaharuan Perjanjian dengan Allah. Inilah sepenggal kisah yang menggambarkan bagaimana bangsa yang dipilih Allah telah lama hidup di luar apa yang telah ditetapkan Tuhan. Mereka membutuhkan pembaharuan dalam tatanan hidup sosial keagamaan. Di dalamnya, mereka membutuhkan penerangan dari Allah melalui kitab Taurat Tuhan agar dapat membangun sebuah tatanan baru yang lebih baik sesuai dengan petunjuk dari Tuha ,dan tidak membiarkan pengaruh-pengaruh dari luar mendominasi seluruh proses kehidupan sosial keagamaan.

@ Menyadari pengalaman jatuh bangunnya bangsa terpilih, yang berulang kali dipengaruhi oleh berbagai ajaran sesat dari pemimpin-pemimpin yang koruptif dan nabi-nabi palsu, Yesus mengingatkan para pengikut-Nya agar mewaspadai ajaran-ajaran baru yang mereka peroleh dari berbagai pihak. Yesus menggunakan analogi serigala berbulu domba untuk mewaspadai para pengikut-Nya akan gerakkan para penyesat. Dan untuk menguji kebenaran suatu ajaran baru, Yesus menganalogikan pohion yang baik yang menghasilkan buah yang baik, sebaliknya pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik pula. Ada pohon yang kelihatan dari luar baik, bagus, indah, kokoh, subur namun belum tentu menghasilkan buah yang baik. Dari buahnyalah kita dapat mengklaim jika sebuah pohon itu baik.

@ Agar dapat menghasilkan buah yang baik, sejatinya bangsa terpilih dan kita semua harus mengikuti apa yang telah ditetapkan oleh Tuhan di dalam Taurat-Nya. Sabda atau perintah Tuhan mestinya diperkenalkan kepada umat secara benar oleh sumber yang benar, dan selanjutnya didalami maknanya oleh kita semua sesuai dengan petunjuk Tuhan sendiri (penerangan Roh Kudus). Dengan cara ini, kita dapat menyikapi secara lebih tepat dan akurat apa saja yang ditawarkan oleh dunia kepada kita.

@ Pesan Firman Tuhan hari ini menjadi lebih kontekstual dan tepat sasar berhubungan dengan pengaruh teknologi digital terhadap kehidupan iman umat. Setap hari, ratusan bahkan ribuan berita dan petunjuk yang menyesatkan kehidupan bermasyarakat dan beragama. Setiap saat, ratusan bahkan ribuan berita hoax berseliweran di dunia maya dengan berbagai macam tawaran yang menggiurkan. Banyak orang menjadi korban dari berita-berita bohong di dunia maya. Oleh karena itu, kita perlu berwaspada terhadap semuanya. Apa pun yang ditawarkan, kita lihat saja dari buah yang dihasilkan. Banyak hal ditawarkan dengan cara “reklame/iklan” namun belum tentu kenyataannya seperti yang kita dengar atau lihat. Waspada!!! Bahkan ada yang menyamar diri dan identitas sebagai orang yang dapat dipercaya. Berhadapan dengan hal ini, kita kembali pada ajaran Yesus: kenalilah dari buah yang dihasilkan.

@ Satu hal lagi. Tentang pohon dan buah, ada yang bertamengkan KERAMAHAN, KEBAIKAN, dan PERHATIAN, namun kenyataan berbicara lain: HATI dan NIAT mereka BUSUK dan JAHAT. Oleh karena itu, kembali lagi pada ajaran Yesus: lihat saja buah yang bakal dihasilkan. Ada yang tajam muka belakang dan ada yang menikam dari belakang. Ada yang tersenyum manis namun kenyataannya sedang merencanakan kejatuhanmu. Ini sungguh panggung sandiwara. Di atas segalanya, mari kita kembali pada GOLDEN RULE yang ada dalam Kitab Taurat Tuhan: lakukanlah kepada sesamamu apa yang engkau kehendaki mereka lakukan terhadapmu. Hukum cinta kasih mestinya merajai setiap langkah laku kita. Marilah menjadi nabi yang benar, yang membawa cinta kasih dan pengampunan, yang tampil sebagai DOMBA BERBULU DOMBA dan yang mengikuti dengan setia Kitab Taurat Tuhan. Marilah, dalam tuntunan Roh Kudus, kita dapat mengenal nabi yang benar dari buah yang kita hasilkan. Saya yakin, kita bakal menghasilkan buah yang baik. Semoga demikian.. Have a great and wonderful evening, filled with love and compassion. God bless you all❤❤❤🙏🙏🙏🙏

Nabi Palsu (Matius 7:15-20)

Bagikan kepada teman-teman anda ....

Kepada kita, sejak dibaptis, dianugerahi Allah untuk mengambil bagian di dalam satu martabat mesianik. Itulah menjadi nabi. Kwalitas menjadi nabi, pertama-tama menemui Allah dan menaruh telinga yang tajam untuk mendengar apa kata Allah. Dulu Allah ditemui di atas gunung tapi sekarang di dalam kontemplasi. Artinya, tak dibatasi dimana hal itu dibuat atau terjadi. Bahkan termasuk kesekitaran kita ribut, asal kita tenang menemui Allah yang datang, pasti suaraNya terdengar jelas bagi kita.

Selesai menemui Allah dan mendengar SabdaNya, sang nabi diminta mewarta atau menyampaikan apa persis kata-kata Allah itu kepada umatNya. Dari gunung, yang didapat begitu harafiah. Namun kini, dengan kontemplasi, SabdaNya yang diperdengarkan dengan hurufiah, perlu menyusul di antaranya yang utama, intisari pesan yang mengoreksi hidup kekinian, dibagikan meluas.

Nabi, ketika mewarta, ia tahu bahwa dirinya adalah sebuah pesan yang hidup. Ia pertama-tama menghidupi pesan itu. Kata dan perilaku hidupnya harus bersesuaian dengan hasil kontemplasi yang ia buat sebelum mewarta. Artinya, mewarta di mimbar penting namun perlu bergema di ruang hidup harian. Kwalitas ini menghapus keraguan, sikap masa bodoh, bahkan tertawa sinis orang lain atas dirinya. Sulit menyampaikan Sabda Allah tentang pengampunan sementara sang pewarta sendiri memiliki deretan musuh bebuyutan di lingkungan, kring atau kombas, tempat mana ia tinggal.

Begitu juga, ia tidak mungkin teridentifikasi memalsukan dirinya untuk mencari kemuliaan yang semu. Konsistensi dan sinergisitas disiplin hidup antara kata dan perbuatan, kemurnian diri di waktu terang dan gelap, dalam keadaan bertebal dompet maupun kering sama sekali, menjadi unsur konstitutif atau pembentuk diri seorang nabi yang sejati di mata Allah dan sesama.

Dengan cara seperti itu, kita bukanlah nabi palsu, atau teridentifikasi sebagai nabi palsu. Karena nabi palsu dikenal dari inkonsistensi manis di bibir, lain di hati, rusak di kelakuan. Atau menurut Injil, buah-buah perbuatan yang ia hasilkan jadi ukuran siapa dia sebenarnya. Nabi Betul atau Nabi Palsu…???

………………..
M. Taher

HUKUM TABUR TUAI VS AJARAN YESUS TENTANG ATURAN EMAS (GOLDEN RULE)

Bagikan kepada teman-teman anda ....

DAILY WORDS, SELASA, 21 JUNI 2022
PEKAN BIASA XII
BY RP. PIUS LAWE, SVD

BACAAN I : II RAJ 19: 9b-11.14-21.31-35a.36
MAZMUR : MZM 48:2-3a 3b-4. .10-11
INJIL : MAT 7: 6. 12 -14

@ Menyimak cerita keberpihakan Allah pada Raja Hizkia dan kota suci Yerusalem, berhadapan dengan serangan Asyur dibawah pemerintahan Sanherib, ada sesuatu yang menarik untuk direfleksikan lebih dalam. Mungkin saya keliru. Namun saya lebih melihat tindakan Allah ini sebagai suatu perwujudan hukum Tabur Tuai. Asyur dan para rajanya menebar kekejaman, kebencian, peperangan dan pemusnahan kerajaan-kerajaan sekitar termasuk Yehuda dan Israel. Oleh karena perbuatan kerajaan Asyur yang tak berbelaskasih ini, Allah melakukan tindakan pembelaan terhadap pihak yang lemah, dalam hal ini kerajaan Yehuda dan Israel. Asyur menuai apa yang mereka tabur. Inilah warna khas tindakan Allah dalam cerita Perjanjian Lama, dimana Allah selalu memihak umat pilihan-Nya meskipun tindakan Allah ini dibuat dengan jalan kekerasan (memusnahkan bangsa yang melakukan tindakan tidak adil terhadap bangsa pilihan Allah). Kisah Perjanjian Lama hari ini menulis jika Allah mengutus Malaikat-Nya, membunuh seratus delapan puluh lima ribu orang di dalam perkemahan Asyur. Namun keberpihakan Allah pada Yehuda dan Israel ini lahir dari tanggapan positif bangsa Israel/Yehuda sendiri berupa sikap tobat dan penyerahan diri yang total pada Allah. Hal ini tercermin dari isi doa dan teriakan Raja Hizkia kepada Allah, yang dulu telah membebaskan nenek moyang mereka dari penindasan bangsa Mesir. Sekali lagi, Perjanjian Lama sering menunjukan kelogisan hukum tabur tuai dalam relasi Allah dengan bangsa pilihan-Nya dan Allah terhadap bangsa-bangsa tetangga.

@ Yesus, dalam Kotbah di Bukit yang kita dengar dalam Injil hari ini, bukan mengemukakan sesuatu tentang hukum Tabur Tuai. Bukan sebuah penegasan atas hukum “gigi ganti gigi,mata ganti mata”. Bukan sebuah gagasan tentang keadilan retributif -barteran (beta baik par ale kalau ale baik par beta) atau hukum balas dendam/lex talionis. Apa yang Yesus kemukakan dalam Injil hari ini lebih kepada sebuah perlakuan terhadap orang lain dengan penuh rasa hormat, sebagaimana yang kita harapkan orang lain perbuat terhadap diri kita. Dengan kata lain, perlakukan orang lain sebagaimana yang anda ingin diperlakukan. Inilah yang disebut sebagai Etika Timbal Balik atau Aturan Emas (golden rule).

@ Bagi Yesus, manusia cenderung memberlakukan hukum balas dendam dan tabur tuai. Dunia lebih dilihat sebagai panggung, yang di atasnya, manusia saling balas dendam. Gigi ganti gigi-mata ganti mata. Orang cenderung bersenang-senang di atas penderitaan orang yang dia benci. Susah bagi dunia untuk mempraktekkan suatu relasi belaskasih dan saling mencinta secara tulus. Dunia sering dipenuhi oleh orang-orang yang cenderung menjadi iri hati dan cemburu, bahkan menaruh dendam atas keberhasilan atau kesuksesan orang lain. Dari kenyataan inilah, Yesus melihat bahwa pintu menuju kebinasaan terbuka lebar. Pintu belas kasih dan pengampunan tampak sempit. Jalan menuju kehidupan sempit. Jalan menuju kebinasaan, lebar.

@ Sebagai orang-orang yang telah ditebus dengan Darah Perjanjian Baru, marilah kita merestorasi atau membaharui cara kita berelasi dengan sesama. Bukan dengan menghidupi hukum tabur tuai. Bukan dengan melanggengkan hukum “gigi ganti gigi mata ganti mata. Bukan dengan balas dendam. Melainkan dengan KASIH dan PENGAMPUNAN. Jika kita mengharapkan BELASKASIH & PENGAMPUNAN dari sesama, maka perbuatlah demikian terhadap mereka. Have a good evening filled with love and mercy. Warm greetings to you all❤❤❤❤🙏🙏🙏🙏🙏

KONSEKUENSI DARI “MINIMNYA INTROSPEKSI”

Bagikan kepada teman-teman anda ....

DAILY WORDS, SENIN, 20 JUNI 2022
PEKAN BIASA XII
BY RP. PIUS LAWE, SVD

BACAAN I : II RAJ 17: 5-8. 13-15a.18
MAZMUR : MZM 60: 3.4-5.12-13
INJIL : MAT 7: 1-5

@ Salmanaser-raja Asyur memenjarakan Raja Hosea, selanjutnya menjelajah seluruh negeri Israel, nenyerang kota Samaria, mengepungnya selama tiga tahun dan akhirnya merebutnya. Orang-orang Israel dibawah ke pembuangan. Bencana nasional ini terjadi atas sebuah bangsa pilihan Allah. Mengapa hal ini sampai terjadi atas sebuah bangsa pilihan Allah? Ya, Israel telah berdosa terhadap Allah yang telah membawa mereka keluar dari penindasan bangsa Mesir. Allah bukan saja membebaskan mereka dari penindasan Mesir. Dia bahkan melengkapi mereka dengan Taurat atau hukum yang komplit/lengkap yang mengatur hubungan mereka dengan Allah dan dengan sesama. Yang membawa Israel jatuh dalam petaka bukanlah Allah. Yahweh tidak menghakimi mereka. Israel sendirilah yang tidak taat pada hukum yang sudah digariskan secara komplit. Jika dilanggar atau dimanipulasi, sudah tentu terjadi kepincangan dalam tatanan sosial religius.

@ Memang orang- orang Israel bukanlah makluk sempurna. Pasti terkadang jatuh. Namun hal yang membuat Israel jatuh berulang-ulang kali adalah karena kurangnya INTROSPEKSI DIRI. Kurangnya kesadaran untuk melihat ke dalam diri dan hidupnya. Israel cenderung terbuai akan keterpilihannya. Akhirnya, mereka tidak menciptakan kesempatan untuk melihat kembali atau mengevaluasi cara hidupnya yang perlahan-lahan keuar dari jalur yang benar sesuai hukum Tuhan. Hal ini diperparah oleh tawaran-tawaran yang bersifat enak sesaat. Pada titik ini, Israel terbius oleh kebiasaan yang salah. Hal ini berakibat pada pembiaran yang berkepanjangan. Pembiaraan ini menjadi kecambah bagi tumbuhnya keyakinan yang salah. Untuk mengatasinya, mereka membutuhkan SAAT JEDAH untuk refleksi dan atau introspeksi. Israel lebih memilih untuk melirik tawaran-tawaran yang lain dan melalaikan hukum yang sejatinya adalah demi kebaikan Israel itu sendiri. Balok di mata Israel kurang atau bahkan tidak disadari dan cenderung melihat keluar, melihat realitas di luar sana. Israel minim kesempatan untuk berintrospeksi.

@ Benar apa yang ditegaskan Yesus tentang satu kecenderungan dalam diri manusia, yaitu kebiasaan melihat keluar diri/orang lain (baca: selumbar) ketimbang melihat BALOK (kesalahan) dalam mata sendiri. Secara psikologis, orang yang cenderung melihat selumbar di mata orang, adalah orang yang sedang menegaskan apa yang sedang bergejolak di dalam dirinya sendiri. Atau dalam kaca mata yang sama, kita dapat mengatakan bahwa orang yang cenderung melihat selumbar di mata orang adalah orang yang TIDAK TAHU DIRI, orang yang sedang berusaha untuk menutupi kesalahannya sendiri. Atau pun dapat disimpulkan bahwa orang yang sering SIBUK DENGAN PERSOALAN ORANG LAIN adalah orang yang sedang mengumumkan bahwa dia pun demikian atau dia pun sudah atau sedang melakukan hal yang sama. Orang yang memiliki kebiasaan melihat selumbar di mata orang adalah orang yang sedang mengarahkan perhatian sesama yang lain dengan tujuan untuk MENUTUPI KESALAHAN SENDIRI.

@ Mari kita saling mendoakan dan menguatkan agar kita selalu mempunyai waktu untuk BERINTROSPEKSI dan lebih rendah hati mengakui kalau masing-masing kita mempunyai balok (baca: KESALAHAN) di mata kita. Have a wonderful evening, filled with a humble heart, full of forgiveness. Warm greeting to you all.❤❤❤🙏🙏🙏

KEKUATIRAN: AKAR DARI HATI YANG MENDUA

Bagikan kepada teman-teman anda ....

DAILY WORDS, SABTU, 18 JUNI 2022
PEKAN BIASA XI
BY RP. PIUS LAWE, SVD

BACAAN I : II TAW 24: 17-25
MAZMUR : MZM 89: 4-5.29-30.31-32.33-34
INJIL : MAT 6: 24-34

@ Kisah “hati yang mendua” adalah kisah klasik. Hawa dan Adam telah memulai peziarahan anak Tuhan dengan kisah pilu “hati yang mendua”. Ketika sedang menikmati indahnya Eden, datang tawaran yang sangat menggiurkan dari iblis. Kalau bisa memakan buah di tengah taman Eden, bakal mereka berdua seperti Allah, bisa menjadikan segala-galanya. Godaan yang datang dengan menggunakan alat yang dapat mendeteksi “aslinya” kharakter manusia yaitu kesombongan, telah menciptakan KEKUATIRAN. Dua insan ini terbius oleh peluru iblis. Mereka menjadi kuatir kalau Allah dapat menjamin kebahagiaan baginya. Alhasil, kehancuran yang mereka tuai. Matanya yang tengah menikmati keindahan Eden, sekarang dapat melihat dirinya yang sedang telanjang. Sirna sudah Eden. Dunia nyata penuh pergumulan agar dapat bertahan hidup, sekarang ada di depan mata. Ini konsekuensi dari HATI YANG MENDUA sabagai dosa turunan oleh karena KEKUATIRAN.

@ Kesombongan yang melahirkan KEKUATIRAN yang bermuara pada terciptanyavHATI YANG MENDUA, juga melilit penduduk Yerusalem dan Yehuda segera setelah meninggalnya imam Yoyada-imam di Yerusalem yang bergerak di belakang layar demi tegaknya kerajaan akibat ulah ibu Atalya. Para pemimpin Yehuda bukan lagi menyembah Yahwe melainkan menyembah raja. Mereka meninggalkan rumah Tuhan Allah nenek moyang mereka, lalu beribadah pada tiang-tiang berhala dan patung-patung berhala. Oleh karena kesalahan itu, Yehuda dan Yerusalem tertimpa murka. Tuhan mengutus nabi-nabi untuk menegur mereka, tetapi mereka tidak mau mendengarkannya. Mereka kuatir kalau Allah bisa menjamin hidupnya. Karena itu mereka bersih keras untuk menyembah raja.

@ Kekuatiran yang menimpa Hawa dan Adam, juga orang-orang Yerusalem dan Yehuda pada masa setelah wafatnya imam Yoyada, juga menimpa kita sekalian. Setiap kita tentu saja mengalami banyak dilema ketika kita berhadapan dengan berbagai tawaran dunia yang enak dan gemerlap. Komitmen kita diuji. Ketahanan kita bahkan goyah. Hal ini sering terjadi ketika kita menjadi kuatir kalau Allah dapat menjamin segala-galanya termasuk kehausan-kehausan kita akan apa saja yang kita alami dalam perjalanan hidup ini. Oleh karena itu Yesus dengan tegas mengingatkan kita untuk tidak cepat tergiur dengan segala macam tawaran duniawi. Yesus juga mengingatkan kita untuk fokus pada satu hal utama. Setia pada yang satu. Pasrah pada penyelenggaraan Allah dan nikmati apa yang ada. Dia mengajak kita untuk tidak mencemaskan diri kita dengan hal-hal yang bersifat artifisial -bukan utama-sementara-hanya sekedar aksesories/penghias/tambahan belaka. Hindarilah kekuatiran akan hari esok. Serahkan semua pada penyelenggaraan Tuhan.

@Marilah kita saling mendoakan agar oleh dorongan Roh Kudus hati kita tetap teguh/kokoh berpegang pada komitmen kita untuk mengabdi hanya pada Tuhan. Dalam kerapuhan dan keterbatasan yang kita miliki, mari kita dekatkan diri pada Tuhan agar hal-hal lain yang bersifat TAMBAHAN, tidak menghalangi kita, tidak membawa dilema, tidak menimbulkan KEKUATIRAN pada diri kita. Semoga Allah dalam Roh Kudus-Nya memampukan kita untuk menyikapi setiap kekuatiran yang datang menimpa diri kita agar kita hidup dalam HATI YANG MENDUA. Maria Ratu semua umat beriman dan Ratu Para Imam, doakanlah kami…. have a great and wonderful weekend filled with love and forgiveness. Warm greetings to you all. ❤❤❤❤🙏🙏🙏🙏

MENGEJAR “YANG KEKAL”

Bagikan kepada teman-teman anda ....

DAILY WORDS, JUMAT, 17 JUNI 2022
PEKAN BIASA XI
BY RP. PIUS LAWE, SVD

BACAAN I : II RAJ 11: 1-4.9-18.20
MAZMUR : MZM 132: 11-12.13-14.17-18
INJIL : MAT 6: 19-23

@ Atalya, ibu dari raja Ahazia, ternyata melakukan kekeliruan yang fatal. Dia mengira, kekuasaan di dunia ini menjamin kebahagiaan, kesejahteraan dan keabadian. Kekeliruan ìni menggiring dia untuk memanipulasi proses demi terwujudnya ambisi pribadinya untuk berkuasa. Dia berusaha membinasakan seluruh keturunan raja. Namun Allah bekerja dengan cara yang ajaib. Yoas, putera raja diculik dari tengah-tengah putera-putera raja yang hendak dibunuh. Dalam perjalanannya, kekuasaan yang diperoleh secara manipulatif akhirnya lenyap. Atalya yang berkuasa selama kurang lebih enam tahun, dibunuh.

@ Terlihat jelas, perihal KEKUASAAN yang bersifat sementara ini ternyata sungguh menarik perhatian banyak orang untuk berusaha meraihnya bahkan dengan cara yang tidak halal dan tidak pantas. Satu realita yang tidak dapat dipungkiri adalah “dimana ada kekuasaan, di sana ada perebutan harta kekayaan dunia. Atau sebaliknya, di mana ada uang atau harta kekayaan, di sana ada KEKUATAN/ KEKUASAAN. Power can bring money-money can create power. Namun, sekali lagi, kekuasaan yang diperoleh secara tidak halal bakal musnah bahkan secara tak bermartabat. Kalau demikian, apa yang seharusnya kita cari atau kejar? Mari belajar dari Atalya dalam cerita kitab Raja-raja.

@ Tentang hal di atas, Yesus menegaskan dengan jelas tentang HATI & HARTA. Di mana hartamu berada, di situ hatimu pun berada. Oleh karena itu, kita mesti berwaspada agar hati kita tidak terpaut pada sesuatu yang bersifat sementara. Yesus mengajak kita untuk mengarahkan diri pada HARTA YANG TAK DAPAT MUSNAH. Kalau pun kita dikaruniai Allah harta yang dapat punah, pergunakanlah itu untuk mendekatkan diri kita pada Allah dan pada sesama. Karena ketika hati kita terpaut harta duniawi, segala cara akan kita lakukan hanya untuk meningkatkan keuntungan sebanyak- banyaknya dan hati kita pun akan lebih terarah pada upaya untuk melindungi atau mengamankan harta duniawi teesebut. Dengan sendirinya mata hati kita menjadi BUTA oleh segala yang bersifat sementara dan apa yang bersifat kekal menjadi kabur bahkan tak kelihatan di hadapan kita.

@ Marilah kita saling mendoakan agar hati kita diliputi kerinduan yang mendalam akan harta surgawi yang tak akan pernah lekang oleh bergulirnya waktu. Harta surgawi itu adalah cinta kasih, damai dan pengampunan. Semoga cinta, damai dan pengampunan menjadi sesuatu yang kita rindukan dan kita perjuangkan. Mari mengejar HARTA YANG KEKAL. Have a wonderful evening, filled with love and compassion. Good night to you all❤❤❤🙏🙏🙏

DAYA AMPUH “PENGAMPUNAN”

Bagikan kepada teman-teman anda ....

DAILY WORDS, KAMIS, 16 JUNI 2022
PEKAN BIASA XI
BY RP. PIUS LAWE, SVD

BACAAN I : SIR 1: 1-14
MAZMUR : MZM 97: 1-2.3-4.5-6.7
INJIL : MAT 6: 7-15

@ Kitab Suci sungguh menggambarkan jika Elia adalah seorang pilihan Allah dan diabadalah orang yang benar di hadapan Allah. Dia telah menjalankan dengan setia apa yang telah Allah percayakan kepadanya. Dalam misinya sebagai seorang nabi Allah, dia konsisten untuk menebarkan kebenaran. Banyak kebajikan yang ia hidupi sebagai seorang pilihan Allah. Kitab Suci tidak menggambarkan secara detail jika Elia juga mempunyai pengalaman bergumul dengan soal PENGAMPUNAN. Namun saya yakin akan dua hal ini: pertama Elia sungguh bergumul dengan situasi konfliktual pada masanya. Semuanya dia hadapi dengan penuh kesabaran. Kedua, hal mengampuni merupakan sesuatu yang amat penting agar manusia dapat dengan bebas melakukan hal-hal baik terhadap sesama di dalam hidupnya dan kelak mengantar dia untuk ada di hadirat Allah sebagaimana terjadi atas diri Elia sendiri.

@ Tentang “pengampunan”, Yesus telah mengajarkan kepada kita sebuah DOA yang sangat komplit -sempurna yaitu DOA BAPA KAMI. Di bagian tengah menuju akhir dari doa ini, Yesus mengajarkan kepada kita untuk memohon kepada Bapa di Surga agar BAPA sudi MENGAMPUNI KESALAHAN KITA SEBAGAIMANA KITA TELAH MENGAMPUNI YANG BERSALAH KEPADA KITA. Dari pernyataan doa ini, kita memohon pengampunan dari Allah atas dosa-dosa kita dengan pengandaian kita TELAH MENGAMPUNI MEREKA YANG BERSALAH KEPADA KITA.

@ Hal di atas sungguh masuk akal! Bagaimana mungkin kita memohon pengampunan dari Allah semetara kita sendiri belum bersedia mengampuni, baik mengampuni orang lain maupun mengampuni diri sendiri. Saya sadar sungguh bahwa hal mengampuni adalah hal YANG PALING BERAT di dalam hidup. Apalagi berhubungan dengan pengampunan kita atas mereka yang telah mencabik-cabik harga diri, melukai martabat dan menelanjangi seluruh diri dan hidup kita. Ini bukan hal yang sepeleh bak membalikkan telapak tangan. Banyak orang berjalan kian kemari dengan menebar senyum dan tawa. Namun hati.mereka sedang tercabik-cabik oleh luka-luka lama yang belum disembuhkan. Ini yang kita kenal dengan LUKA BATIN. Banyak proses, baik spiritual maupun psikologis mesti kita lalui untuk sampai pada titik ini: KERELAAN MENGAMPUNI untuk dapat SEMBUHKAN LUKA BATIN.

@ Tentang kerelaan mengampuni untuk dapat menyembuhkan luka batin, saya mengajakmu sekalian untuk sekali lagi menikmati sebuah film pendek, karya John LaRaw dari Korea Selatan berjudul THE CONFESSION yang memenangkan festival internasional Katolik dalam karya Film Pendek. Film yang berdurasi singkat ini menceritakan perjuangan seorang imam muda yang energetik dan ceria untuk bersedia mengampuni seorang umat (kakek tua) yang datang melalui Sakramen Tobat pribadi guna memohon absolusi atas dosa pembunuhan yang kakek ini telah lakukan 20 tahun silam. Saat di tempat pengakuan, ketika si kakek ini sedang bercerita tentang kronologi pembunuhan yang ia lakukan, si imam muda sangat dikagetkan karena ternyata itulah pembunuhan yang terjadi atas AYAH KANDUNG imam itu sendiri dan terjadi di depan matanya – dia yang waktu itu masih kecil yang tengah berada bersama ayahnya saat ditabrak sebuah kendaraan. Si pengendara kabur dan sampai dengan 20 tahun ini, pelaku tidak pernah mendapat proses peradilan yang setimpal karena dia berlari menyembunyikan dirinya. Namun si kakek pembunuh ini, dalam pengakuannya, meski tidak masuk penjara tetapi dia telah TERPENJARA 20 tahun oleh SUARA HATI-nya yang setiap hari mengejar dan mengadilinya. Ketika dia -si kakek ini menyadari bahwa dia akan segera mati akibat kanker yang sedang dideritanya, dia ingin mengaku dosanya dan mendapat pengampunan dari Allah. Singkat kata, si imam muda meski dalam kesunyian pengakuan pribadi itu, menemukan dirinya terjebak dalam kemarahan yang luar biasa. Dia secara fisik, emosional dan spiritual berjuang untuk dapat mengampuni. Setelah didudukannya si kakek di bangku depan gereja, kakek yang tiba-tiba jatuh terjerebab ke lantai setelah menyadari jika yang ditabrak itu ayah dari si imam muda ini, si imam muda berlutut di tengah depan altar, mengucapkan secara tertatih-tatih kata demi kata dari DOA BAPA KAMI. Ketika sampai pada kalimat AMPUNILAH KESALAHAN KAMI SEPERTI KAMI PUN MENGAMPUNI YANG BERSALAH KEPADA KAMI, dia terhentak dan memandang Yesus yang Tersalib,sampai akhirnya dia menyelesaikan doa Bapa Kami tersebut. Si imam pun datang menghampiri si Kakek dan melanjutkan cerita. Dia berterus terang pada si Kakek kalau ayahnya tidak mati dalam kecelakaan itu. Si Kakek pun memohon untuk pergi menjenguk si Ayah dari Imam ini. Ternyata ayah si imam sudah meninggal tiga tahun silam. Ada dua hal yang tercermin dari reaksi keduanya: pertama, ada PENGAMPUNAN darinsi imam terhadap perbuatan si Kakek. Kedua, ada pertobatan yang membebaskan.

@ Sebagai kesimpulan: pertama, saya mesti berjuang setiap saat di dalam doa agar oleh kekuatan Roh Kudus saya bersedia mengampuni, baik sesama yang bersalah kepadaku maupun megampuni diri sendiri. Kedua, saya mesti mengampuni karena Tuhan sudah mengampuni dan membebaskan saya dari dosa-dosa lewat sengsara dan wafatnya fi kayu salib. Ketiga, karena di dalam pengampunan, ada PEMBEBASAN. Itulah DAYA AMPUH dari PENGAMPUNAN….Kita saling mendoakan agar setiap hari kita berusaha untuk bisa mengampuni terlebih terhadap mereka yang menciptakan luka di hati kita. Have a wonderful and blessed Tuesday filled with love and forgiveness. Warm greetings to you all❤❤❤🙏🙏🙏🙏🙏🙏

TUHAN MENJAGA ORANG YANG SETIAWAN

Bagikan kepada teman-teman anda ....

DAILY WORDS, RABU, 15 JUNI 2022
PEKAN BIASA XI
BY RP. PIUS LAWE, SVD

BACAAN I : II RAJ 2: 1.6-14
MAZMUR : MZM 31: 20.21.24
INJIL : MAT 6: 1-6.16-18

@ Nabi Elia meninggalkan bumi dengan cara yang unik. Semuanya oleh karena kuasa penyelenggaraan oleh Allah bagi hamba yang setia. Nabi Elia telah menjalankan tugas kenabiannya dengan setia. Oleh karena itu Allah membuat segala yang terjadi atasnya secara unik dan istimewah. Dijemput dengan kereta berapi dan kuda. Cara meninggalkan bumi menuju ke surga yang diperuntukkan hanya bagi orang-orang tertentu yang memenangkan dunia dan segala pengaruhnya. Peristiwa nabi Elia meninggalkan bumi dan naik ke surga disaksikan oleh penerusnya, Elisa menunjukkan sebuah tipologi kejadian yang sama terjadi atas diri Yesus. Yesus naik ke Surga disaksikan oleh para rasulNya. Elisa mengambil jubah Elia, suatu simbol penerusan kuasa kenabian yang terjadi atas diri Elisa. Yesus naik ke surga namun diutus olehNya Roh Kudus – Sang Penghibur bagi para rasulNya. Hal ini sungguh terjadi hanya pada utusan Tuhan yang SETIAWAN. Sebagaimana disampaikan sang Pemazmur hari ini, Tuhan menjaga orang yang SETIAWAN.

@ Siapakah ORANG YANG SETIAWAN? Yesus menegaskan tipikal orang yang setiawan di dalam kotbahNya di Bukit. Bagi Yesus, orang yang setiawan adalah yang JUJUR dan SETIA menjalankan perintah Tuhan dan dalam menjalin relasi dengan-Nya. Pertama, otentisitas atau keaslian/kejujuran dalam melakukan sesuatu yang baik. Bukan drama. Bukan PAMER – SHOW OFF. Yang asli. Buat baik bukan supaya dilihat orang. Yesus tegaskan, jangan lakukan kewajiban agamamu supaya DILIHAT ORANG. Kalau intensinya hanya untuk dilihat orang, wahhh ini TIDAK OTENTIK atau tidak asli. Kalau beri sedekah, TIDAK HARUS DILIPUT oleh paparasi dan diumumkan ke seluruh penjuru dunia lewat MEDSOS. Kalau buat baik, TIDAK PERLU MENG-UMBAR ke segala penjuru. Nilainya sudah TURUN bahkan MINUS. Mengapa? Sudah tidak asli. Drama! Lebih kepada sebuah pameran. Salut bagi semua yang berbuat BAIK dalam DIAM.

@ Kedua, jalin komunikasi dengan Allah secara OTENTIK/ asli. Tidak perlu bersandiwara dengan cara berdoa panjang lebar di jalan-jalan, di tikungan-tikungan jalan supaya dunia tahu bahwa dia pendoa-dia akrab dengan Allah. Toh hanya Tuhan yang tahu jika engkau dekat denganNya. Beritahu intensimu pada Tuhan apa adanya. To the point. Tidak perlu bertele-tele dengan memoles kata-kata yang indah-puitis. Kalau berdoa, tidak harus dunia tahu lewat MEDSOS. Apa untungnya? Berdoalah di dalam kamar atau bersama-sama dalam kumunitas tanpa harus dipamerkan. Cukup engkau dan Tuhanmu yang tahu kalau ada komunikasi pribadi sedang berjalan lancar.

@ Ketiga, berpuasa. Ya, sekali lagi, buatlah dalam intensi yang murni. Tujuanya jelas. Misalnya, saya berpuasa dan berpantang supaya apa yang saya korbankan untuk tidak dikonsumsi/dimakan/diminum, dapat dialihkan dan diprruntykan untuk/bagi orang kecil/miskin/berkekurangan. Tidak perlu berkostum khusus atau berekspresi secara khusus supaya dilihat dunia bahwa saya sedang berpuasa atau sedang bermati raga. Yesus sangat menentang hal-hal yang bersifat PENGUMUMAN-PAMER DIRI dan KUASA. Yesus lebih condong pada BUAT DALAM DIAM. Setia di dalam DIAM. Justru kesetiaan berbuat kebajikan di dalam diam inilah yang diperhitungkan Allah.

@ Mungkinkah Allah yang menyelenggarakan sesuatu yang unik bagi masing-masing kita? Semuanya tergantung pada penyelenggaraan Allah dan response kita. Apakah kita SETIA di dalam melakukan kebajikan-kebajikan yang diamanatkanNya: BERSEDEKAH, BERDOA & BERPUASA? Apakah saya menjaga OTENTISITAS/KEASLIAN MOTIVASI dalam BERSEDEKAH-BERDOA & BERPUASA? Ya, sebagai imam, saya mesti lebih banyak berbenah. Berbenah dalam bersedekah, berdoa dan berpuasa. Berbenah di dalam membangun motivasi yang murni ketika hendak bersedekah-berdoa &berpuasa. Mungkin saudara dan saudariku juga ikut berbenah di dalam ketiga hal di atas sesuai dengan kapasitas-profesi-panggilan hidupmu masing-masing. Selamat mencoba dan jangan lupa, buatlah atas motivasi yang murni karena Tuhan menjaga ORANG YANG SETIAWAN… Have a wonderful Wednesday filled with an autentic and genuine love and compassion. Warm greetings to you all….❤❤❤❤🙏🙏🙏🙏

Open chat
Whatsapp Keuskupan Amboina
Selamat datang di Keuskupan Amboina. Saya Pastor Leoard Ansis, admin Keuskupan Amboina.
Apa yang bisa kami bantu?