indobet365

login idb365

www.altcoinsidekick.com

https://www.wilsonhauscoffee.com/

link idb365

https://www.batidaperfeita.com/

www.wilsonhauscoffee.com

situs bola

www.pizzeriapinocchio.com

idb365 login

lapkv

link lapkv

login lapkv

situs lapkv

la pkv

la pkv games

link login lapkv

situs resmi lapkv

link resmi lapkv

agen resmi lapkv

situs bbm88

bbm88 bola

bbm88 sbobet

bbm88 parlay

bbm88 parlay

link bbm88 parlay

login bbm88

link bbm88

idb365.org idb365.blog idb365.com bbm88 sports bbm88 bbm88.com link bbm88 bcaqq.com laliga365 bcaqq mataqq.tattoo fintexpress botakqq lapkv.org lapkv aprin profile
socialhousegrmi.com ferrislxa.org hugthehomies.com goldencoastconnoisseur.com vondetteroofingmi.com jvreality.in tank.orchidwine.com.au fcthighcourt.gov.ng smp-mariaimmaculatatangerang.com anpfa.org.np rethydevi.com cellmatiq.com bryceninternational.com.np evergreenpp.com.np jewellersnanabhai.com bowlofpiquancy.in b-square.in detailingpro.ru smp-mariaimmaculatatangerang.com bioplasticartad.com
MENIMBA MAKNA SEBUAH RITUS & BELAJAR UNTUK TIDAKMENGHAKIMI BERDASARKAN PENAMPILAN FISIK – Keuskupan Amboina

Keuskupan Amboina

Duc In Altum

MENIMBA MAKNA SEBUAH RITUS & BELAJAR UNTUK TIDAKMENGHAKIMI BERDASARKAN PENAMPILAN FISIK

DAILY WORDS, JUMAT, 01 AGUSTUS 2025
PEKAN BIASA XVII – TAHUN C
PW. ST. ALFONSUS MARIA DE LIGUORI
BY RP. PIUS LAWE, SVD

BACAAN I : IM 23: 1. 4 – 11. 15 – 16. 27. 34b. 37
MAZMUR : MZM 81: 3 – 4. 5 – 6ab. 10 – 11ab
INJIL : MAT 13: 54 – 58

@ Di tahun 2012, saat kembali ke Indonesia, saya harus membeli satu kopor pakaian yang baru karena kopor yang lama telah rusak dan tidak layak untuk dipakai. Saya ke Mall Atrium Senen Jakarta guna mencari sebuah kopor yang baru. Waktu itu saya ke mall dengan berpakaian seadanya: celana pendek dan bersepatu kasual serta mengenakan sebuah topi. “Pak, kopor itu harganya mahal.” Saya terkejut mendengar komentar yang kesannya meragukan kemampuan finansial seorang customer. Saya dengan guyon dan agak serius menimpal pernyataan itu dengan berkata, “Kan saya yang bayar, bukan kamu kan?” Pelayan store itu terdiam dan supervisor di departmen itu pun datang dan menanyakan apa yang sedang kami percakapkan. To make it short, saya hanya berpikir di dalam hati, mungkin pelayan itu melihat tampang saya dan tidak menyangka kalau saya mampu membayar kopor yang bagus dan berkualitas dengan harganya yang tentu saja mahal. Hmm don’t judge a book from its cover..!!

@ Okay, mari kita dalami firman Tuhan hari ini. Pertama, kita mesti mengimbangi antara kulit dan isi. Kitab Imamat memuat berbagai macam hal seputar aturan merayakan Paskah, Hari Raya Roti Tak Beragi dan Hari Raya Pondok Daun. Kita membaca satu rentetan aturan main/peraturan yang rumit dan menuntut ketelitian dan kecermatan serta konsistensi dalam pelaksanaannya. Secara umum, peraturan-peraturan peribadatan dalam Kitab Imamat sangat menekankan ritus-ritus yang panjang lebar. Di dalamnya, ada peraturan tentang tanggal, hari dan bulan perayaan-perayaan besar Yahudi yang mesti mereka rayakan saat di Tanah Terjanji. Ya, kesannya segala peraturan di dalam Kitab Amsl sangat ritualistic. Artinya terlalu banyak aturan yang berbelit-belit. Namun ini kan cuma penilaian dari luar saja. Seperti halnya perayan Pekan Suci, jika kita masuk jauh ke dalam ritus-ritus yang dipaparkan dalam kitab Imamat, segalanya mengantar kita untuk memahami makna terdalam dari perayaan Paskah Tuhan. Bahkan sampai hari ini, orang-orang Yahudi Ortodox masih menjalankan peraturan-peraturan di atas dengan penuh kesadaran akan makna terdalam dari semuanya, yaitu mendalami makna Pembebasan Umat Israel oleh Allah sebagai perwujudan janji Allah atas bangsa pilihan-Nya. Dalam perayaan-perayaan besar di atas, cerita karya besar pembebasan Umat Israel oleh Allah dari penindasan bangsa Mesir, dan peziarahan mereka menuju Tanah Terjanji tersirat di dalam setiap ritus yang mereka jalankan. Hal ini persis yang kita rayakan dalam Perjanjian Baru yaitu pada perayaan Pekan Suci. Kita bukan sekedar merayakan dan mengikuti satu per satu proses ritus-nya. Kita mendalami setiap proses dan menimba makna spirtualnya.

@ Hal ini tercermin juga di dalam perayaan-perayaan liturgis dewasa ini. Kita bukan sekedar menyaksikan para imam atau klerus berbaris dengan pakaian kebesaran liturgis. Di dalam pakaian kebesaran liturgis, ada makna yang tersirat, yaitu gambaran Sang Gembala Agung – Kristus Yesus yang siap memanggul salib dan siap untuk disalibkan bersama dengan-Nya lewat persembahan diri dalam pelayanan kepada umat Allah dalam berbagai bidang kehidupan. Pakaian kebesaran liturgis bukan untuk memisahkan para imam dari umat. Para imam pun tidak berhenti pada pengenaan pakaian kebesaran liturgis dan berhenti pada persembahan korban Ekaristi Kudus. Lebih jauh dari itu, para imam membaharui komitmen untuk siap menjadi korban itu sendiri dengan terjun dan mengalami keadaan umat Allah yang sebenarnya, berjuang bersama mereka, bahkan menjadi corong yang menyerukan suara-suara mereka yang dibungkam oleh segala macam system di dalam masyarakat. Pakaian kebesaran liturgis dan kurban Ekaristi adalah sarana dan momentum penuh rahmat untuk menimba kekuatan rohani untuk siap bertempur di medan laga pelayanan.

@ Kita juga bukan sekedar memamerkan gedung-gedung Gereja yang waooo untuk menjadi tempat orang-orang mengambil foto dan mem-postingkan semuanya di media sosial. Kita sedang memberi kabar kepada dunia dan bersaksi bahwa Tuhan dan rumah tempat umat-Nya berkumpul harusnya menjadi prioritas. Kita sedang memberi kabar kepada dunia bahwa kita mempunyai kewajiban moril untuk menyeimbangkan antara kemegahan rumah Tuhan dengan pergumulan hidup yang sedang diperankan oleh umat Allah yaitu himpunan individu-individu yang berasal dari berbagai profesi: abang ojek, becak, supir, buruh bangunan, buruh Pelabuhan, guru dan pegawai, nelayan dan petani, pengusaha kecil, menengah dan besar. Rumah Tuhan yang megah ini merupakan tempat yang nyaman bagi umat Allah untuk menimba kekuatan rohani dan kembali berkarya di dalam keluarga masing-masing dan di dalam masyarakat. Singkatnya, kita mesti sadar dan menghayati prinsip ini: baik tata upacara atau ritus perayaan yang rumit maupun gedung Gereja yang megah mestinya mengantar kita untuk mendalami makna terdalam darinya dan pesan moril yang baik bagi kehidupan umat beriman.

@Kedua, kita tidak sekedar membuat penghakiman/judgment terhadap seseorang atau kelompok orang hanya atas apa yang kita lihat atau saksikan di permukaan atau di kulit luarnya saja. Injil hari ini mengingatkan kita akan hal di atas. Hanya karena orang-orang mengenal Yesus sebagai seorang anak tukang kayu dari kota kecil Nasaret dan mengenal semua sanak kerabat-Nya, mereka menolak atau mengusir Yesus tanpa peduli akan apa yang sudah Dia ajarkan dengan penuh kewibawaan seorang guru. Orang-orang ini menilai satu buku hanya dari tampak kulit luar-nya saja. Terhadap pengalaman Yesus ditolak di tempat asalnya sendiri, kita pun mau belajar untuk tidak cepat memberi penghakiman atas orang lain hanya dengan melihat tampak luarnya atau tampak permukaannya saja. Mari kita saling mendoakan agar kita diberi kemampuan untuk membangun keseimbangan antara hal ritual dan hal-hal jasmaniah. Have a good evening filled with love and mercy. Warm greetings from Masohi Manise……padrepiolaweterengsvd

wpChatIcon