NOMEN EST OMEN & SUATU KEMERDEKAAN BATINIAH

DAILY WORDS, RABU, 29 MARET 2023
PEKAN V PRAPASKAH

BACAAN I : DAN 3: 14 – 20
MAZMUR : T. DAN 3: 52. 53. 54. 55. 56
INJIL : YOH 8: 31– 42


by RP. Pius Lawe, SVD

@ Nomen est omen – nama adalah tanda. Mendengar sebuah nama, kita mungkin langsung terbayang tentang siapa orang itu, dari mana dia berasal, atau dari kasta atau kelas social yang mana, atau dari suku atau marga apa. Mendengar nama Nogo, Barek, Peni, dst., _orang tahu kalau itu nama-nama tengah yang dibubuhkan pada perempuan dari suku-suku dalam rumpun Lamaholot (Flores Timur, Solor, Adonara dan Lembata). Begitupun ketika orang mendengar nama_ Kopong, Payong, Lewa, Lawe, Daton,dst., orang langsung tahu kalau itu nama tengah bagi laki-laki suku-suku rumpun Lamaholot. Ketika mendengar nama Darsono, Juwono, Prabowo, Djiwandono, Widodo, Kedondo, dst. Itu sudah pasti nama-nama pria dari Jawa. Atau kalau mendengar nama marga Silalahi, Simamora, Situmorang , orang tahu kalau itu nama-nama dari suku Batak. Hari ini, kita mendengar tiga orang Ibrani yang namanya sudah diubah ke dalam nama Babilonia – suku Babel: Sadrakh Mesakh dan Abednego. Nama Ibrani-nya telah ditanggalkan. Penggantian nama ini sebenarnya sebuah indikasi kuat bahwa mereka bukan lagi memegang adat istiadat Ibrani atau Israel; mereka bukan lagi menyembah Allah Israel (Allah Abraham – Ishak – Yakub). Mereka dipaksa untuk menyembah dewa-dewi asing bangsa Babilonia.

@ Kisah dalam kitab Daniel ini telah memberi penegasan kepada kita bahwa ketiga pemuda ini adalah orang-orang yang sungguh MERDEKA. Mereka tidak merasa ditindas hanya karena perubahan nama. Sekalipun nama mereka diubah ke dalam nama Babel, mereka tetaplah anak-anak Allah keturunan Abrahan – Ishak dan Yakub yang berkomitmen untuk tetap menyembah Allah yang satu dan sama bagi segenap bangsa Israel. Perubahan nama oleh pihak luar tidak merubah SUBSTANSI KEYAKINAN mereka akan Allah. Meskipun NOMEN est OMEN , namun jika perubahan nama itu merupakan sebuah paksaan, maka nama yang dilabelkan hanyalah sebuah nama di kulit luar saja tanpa menggantikan seluruh jati diri (hati-budi-batin) dari ketiga pemuda Ibrani ini. Meskipun mereka diancam masuk ke dalam perapian yang suhu-nya dilipat-gandakan 7 kali panasnya, integritas iman-nya untuk tetap menyembah pada Allah yang satu yaitu Allah Abraham-Ishak -Yakub, tidak tergoyahkan. Atas keteguhan hati dan imannya, Allah yang mereka sembah dengan tulus dan jujur, telah menyelamatkan mereka dari ancaman bahaya. Lebih menarik lagi, ternyata kesaksian iman mereka bertiga justru membawa pertobatan bagi raja Nebudkanezar, yang pada akhirnya menyerukan seruan ini, “ Terpujilah Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego.” Terbukti bahwa jika pemaksaan perubahan nama itu dari pihak luar, hal itu tidak merubah hal yang jauh lebih penting – yang ada di dalam batin/hati seseorang. Mereka bertiga membuktikan bahwa mereka adalah keturunan Abraham dan tidak pernah menjadi hamba siapa pun. Mereka tidak pernah mempunyai hati yang mendua. Satu tetaplah satu sampai mati. Inilah disposisi sebuah hati yang sungguh-sungguh MERDEKA meskipun secara harafiah, nama mereka diubah. Sekali lagi, ini sebuah cerminan anak-anak Allah yang merdeka. Inilah makna sebuah kemerdekaan batiniah. Nomen dipaksa untuk dirubah, namun “ self ” atau “diri” tidak dapat dirubah.

@ Memiliki kemerdekaan batiniah artinya hidup kita mestinya sepadan atau sesuai dengan nama yang kita bawa dari lahir atau pada saat kita dipermandikan atau pada upacara inisiasi tertentu sesuai dengan adat kebiasaan dan asal serta agama kita masing-masing. Kalau kita dibubuhkan nama-nama Katolik atau Kristen, maka hidup kita mestinya sesuai dengan ajaran Kristus. Hidup kita mestinya merupakan cerminan dari nama yang dibubuhkan kepada kita. Jika nama saya adalah Pius, Albertus, Fransiskus, Zakarias, Alfonsus, Januarius atau Stefanus, hidup kita mestinya mencerminkan sikap-sikap kekristenan kita. Cerminan kekristenan terpancar dari tindakan cinta kasih yang kita amalkan di dalam hidup setiap hari berdasarkan iman kita pada Kristus Yesus yang adalah Putera Allah yang menjelma menjadi manusia. Nama yang dibubuhkan pada diri kita menggerakkan kita untuk terus bersaksi secara benar apapun super kuat-nya pengaruh-pengaruh luar yang perlahan menggerogoti hidup kita. Ingat kata-kata Yesus dalam Injil hari ini, “Sekiranya kamu anak-anak Abraham tentulah kamu mengerjakan pekerjaan yang dikerjakan oleh Abraham.” Yesus adalah Anak yang diutus Bapa ke dunia. Berarti Yesus secara merdeka menjalankan misi dari Bapa dengan kekuatan Roh Kudus. Yesus tidak merasa diperhamba atau ditekan oleh kekuatan manapun. Dia tetap konsisten menjalankan amanat dari Bapa-Nya yang di Surga.

@ Di jaman yang serba “ high technology ” atau jaman yang berteknologi tinggi ini, kita mudah diperhamba oleh berbagai hal di sekitar kita. Kita diperhamba oleh Handphone (HP), kita terobsesi dengan berbagai aplikasi dan web yang ditawarkan. Kita membuang waktu kita begitu lama dengan mengutak-atik hp, memposting status di berbagai media semisal Facebook, Instagram, Tik Tok, Whatsapp, dst. Kita kurang menghabiskan waktu dengan Allah yang kita sembah. Kita lebih menghabiskan waktu dengan media-media social elektronik. Hal ini bukan saja terjadi pada orang-orang dewasa. Anak-anak bahkan yang masih di usia PAUD, sudah terobsesi dengan teknologi yang satu ini. Mereka dan kita semua bukan lagi menjadi orang-orang merdeka yang melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa di Surga. Kita sedang menyembah sosok dewa yang baru yaitu TEKNOLOGI DIGITAL (Handphone, dst.). Kalau kita konsisten dengan semboyan NOMEN EST OMEN , maka dari tindakan atau kecenderungan anak-anak dan pasangan suami istri dewasa ini, maka siapa tahu kita bakal mempunyai generasi penerus yang anak-anaknya diberi atau dibubuhi nama seperti: OPPO, REALME, SAMSUNG, VIVO, ASUS, TOSHIBA, DELL, dst. Jika terjadi demikian, maka kita tidak lagi menjadi orang-orang yang merdeka, yang hanya menyembah pada satu Allah. Kita telah menggantikan Allah dengan illah-illah yang lain. Kita tidak lagi mempunyai KEMERDEKAAN BATINIAH dalam hidup iman. Kita diperhamba atau diperbudak oleh sarana-sarana berteknologi tinggi.

@ Mari kita saling mendoakan agar, apapun tantangan dan rintangan yang kita hadapi, apapun majunya teknologi dengan serba kecanggihannya, kita tetap menghidupi identitas kita secara benar. Tindakan atau tutur kata kita sesuai dengan nama yang dibubuhkan pada kita. Tindakan kita mencerminkan kemerdekaan batin yang kita miliki. Semoga demikian… have a great day filled with love and compassion. Warm greetings from Masohi manise….salve…salve…salve….padrepiolawesvd
🙏🙏😇😇❤️❤️🫰🏿🫰🏿