Dikerumuni karena karakter Yesus ada dalam dirinya


Pastor bonus, RD. Zandhy Ohoiledwarin, telah pergi untuk selamanya. Kepergiannya meninggalkan duka yang mendalam di hati kita semua. Kita para imam, dan banyak orang yang pernah berjumpa, berinteraksi dan bekerja dengan dia ikut merasa sedih dan menangis.

Wafatnya ditangisi karena pelbagai macam alasan sesuai intensitas pengalaman pribadi masing-masing. Di media sosial, banyak orang mengekpresikan rasa sedih dan kehilangan yang mendalam, disertai alasan yang berbeda-beda. Ada yang mengatakan kehilangan ‘sosok yang bersahaja’, kehilangan ‘orang baik’, kehilangan ‘pribadi yang murah senyum’, kehilangan ‘imam yang sedikit berbicara tetapi banyak berbuat/bekerja’, kehilangan ‘teman angkatan yang ramah, sopan dan murah hati’, kehilangan ‘murid yang pandai’, kehilangan ‘guru yang disiplin, penuh perhatian dan penyayang’, dan masih banyak lagi.

Litani alasan kehilangan dan kesedihan tersebut di atas menggambarkan bahwa semasa hidupnya banyak orang mengenal, dekat dan akrab dengan Pastor Zandhy. Dia “dikerumuni” oleh orang banyak: anak-anak murid dan dewan guru SMP Xaverius tempat dia melayani, rekan-rekan imam, teman-teman seangkatan, bahkan umat lintas kelompok kategorial dan parokial. Pastor Zandhy bagaikan Yesus yang “dikerumuni” orang banyak dalam Injil hari ini (bdk. Mrk. 3:20-21).

Rupa-rupa alasan kehilangan dan kesedihan yang diungkapkan oleh orang-orang yang berbeda secara eksplisit meenggambarkan karakter atau ciri khas kepribadian Pastor Zandhy. Kesaksian mantan Uskup Keuskupan Amboina, Mgr. P.C. Mandagi MSC, melengkapi daftar karakter almarhum, “Saya mengenal dengan baik Pastor Zandhy, karena dia hidup lama dengan saya di rumah keuskupan di Ambon. Dia seorang imam yang rajin, disiplin, dan suka menolong. Pribadi yang berkorban dan tidak hidup bagi dirinya sendiri. Pastor Zandhy memiliki karakter sepereti Yesus.

Oleh karena itu, banyak orang mengerumuni dia. Dia dicintai oleh banyak orang, terutama para guru dan anak-anak murid SMP Xaverius Ambon.” Demikian Uskup Mandagi dalam kotbahnya pada misa requiem bersama para imam Keuskupan Amboina yang menjadi misionaris di Keuskupan Agung Merauke, Sabtu, 20 Januari 2023.

Hari ini jazad Pastor Zandhy Ohoiledwarin dikebumikan. Rasanya tidak ikhlas hati ini melepaskan rekan kita ini pergi. Dia masih muda dan penuh potensi; memiliki banyak impian yang perlu diwudjukannya demi keagungan keuskupan Amboina dalam perjalanan bersama dengan Bapa Uskup, rekan imam dan umat. Bagiku, karakter paling unggul yang dimiliki Pastor Zandhy adalah ketaatannya kepada kehendak Tuhan. Postingan terakhir di laman Facebook-nya pada 3 Januari 2023 adalah kata-kata Bunda Maria “Fiat voluntas tua” (Luk 1:38). Setelah itu, Pastor Zandhy tak pernah lagi mempublikasikan apa pun di Facebooknya. Dia sudah berserah diri dan membiarkan apa pun rencana dan kehendak Tuhan terjadi dalam hidupnya.

Saya mencoba memabayangkan apa yang Pastor Zandhy pikirkan dan rasakan sebelum kata-kata ‘fiat voluntas tua’ itu dia publikasikan. Di pikirannya mungkin terlintas tugas belajar S2 Managemen Pendidikan di Unpati yang sudah hampir selesai; laporan-laporan administrasi sekolah yang mungkin belum tuntas dikerjakan; tugas dan tanggung jawabnya sebagai ketua komisi Komsos, dll., yang pada gilirannya menggiring dia untuk merasakan kekhawatiran, kecemasan, kesedihan, dan ketakutan yang mendalam. Akan tetapi, semua pikiran dan perasaan negatif itu mampu dikelolahnya dengan baik karena ia taat kepada Tuhan. Ketaatan dan penyerahan diri ini niscaya membuahkan damai di pikiran dan hatinya. Inilah pelajaran berharga yang saya dapatkan dari Pastor Zandhy.

Karakter seseorang selalu lahir dari proses pembentukan yang panjang dan memakan waktu yang lama.
Selamat jalan Pastor bonus. Saya dan rekan-rekanmu di Merauke ikut sedih dan menangisi kepergianmu. Selamat berbahagia bersama Yesus di surga. Doakan kami semua.

Written by: RD. Theo Amelwatin