TUNTASKAN SAMPAI KE AKAR – AKAR-NYA

DAILY WORDS, SENIN, 13 NOVEMBER 2023
PEKAN BIASA XXXII
BY RP. PIUS LAWE, SVD

BACAAN I : KEB 1: 1 – 7
MAZMUR : MZM 139: 1 – 3. 4 – 6. 7 – 8. 9 – 10
INJIL : LUK 17: 1 – 6

@ Tahun yang lalu, saya terlambat membayar pajak mobil. Dalam pemahaman awal yang saya milliki, kalau barusan terlambat beberapa hari tentu denda atau sanksi atas keterlambatan jumlahnya tidak sebesar keterlambatan satu hari atau dua minggu, atau bahkan berberapa bulan. Artinya semakin hari dendanya semakin besar. Ternyata tidaklah demikian aturan mainnya! Atau sehari atau setahun, dendanya tetaplah untuk setahun! Sialan beta! Harus bayar untuk setahun meskipun terlambat cuma empat hari. Prinsipnya, terlambat ya tetaplah terlambat. Inilah Pelajaran bagiku untuk pembayaran pajak mobil tahun – tahun mendatang.

@Di dalam syering pribadi-ku dengan orang-orang yang saya perhitungkan sebagai rekan atau sahabat dekat yang siap mendengarkan, atau dengan kakak berdua di rumah, saya sering tertambat pada satu pola/pattern yang sama. Begini polanya! Di saat bercerita dan muncul satu dua pribadi yang mungkin pernah melukai, menyakiti hati atau mengecewakanku dalam pelbagai bentuk dan cara, saya spontan mulai bereaksi lebih keras bahkan secara tak terkontrol menceritakan kembali apa yang pernah terjadi jauh sebelumnya. Saya memang selalu mengakui kalau sudah ada maaf atau tidak ada lagi dendam yang tersimpan di kedalaman hati. Mungkin benar jika orang sering mengatakan satu ungkapan ini: to forgive but not to forget (memaafkan tetapi bukan melupakan). Hanya, reaksi spontanku sepertinya menggambarkan “masih ada luka atau bahkan dendam/amarah” di hati. Saya terus bertanya diri: apakah ketika saya memaafkan seseorang, saya sungguh-sungguh memaafkan atau saya sekedar mencari kenyamanan diri dan berusaha menyenangkan orang-orang di sekitarku? Apakah saya hanya mau sekedar untuk dilihat sebagai orang yang gampang memaafkan atau sebaliknya? Rupanya pertanyaan-pertanyaan introspective ini sekedar merupakan usaha untuk mematangkan diri hari demi hari, dan sekaligus merupakan upaya pembersihan hati dan pikiran dari energi-energi yang kurang kondusif dan kurang produktif.

@ Tentang amarah dan dendam, saya juga sering mendengar orang-orang di sekitarku berkata demikian, “Pastor, saya ini orangnya pemaaf. Saya tidak simpan dendam. Saya akan selalu memaafkan siapa pun. Tetapi tentang orang yang satu ini, saya susah memaafkan. Terlalu sulit untuk saya maafkan. Saya tidak tahu bagaimana untuk memaafkan orang ini/itu..Ya, akhirnya seperti cerita “ denda keterlambatan membayar pajak”, memaafkan tidak bisa hanya untuk hal-hal tertentu saja atau tidak hanya untuk orang tertentu saja. Maaf yang tulus akan mengalir untuk apa saja yang menyakitkan dan siapa saja yang pernah menyakiti hati kita.

@ Kitab Kebijaksanaan, dalam hubungan dengan pergumulanku di atas, mengarahkanku dan mungkin juga mengarahkan saudara/i untuk lebih berbenah diri. Kebijaksanaan mendorong kita untuk mengarahkan pikiran hanya pada Tuhan, mencari Dia dengan tulus hati. Allah – Sang Kebijaksanaan tidak tinggal di dalam tubuh yang dikuasai dosa, termasuk dosa dendam dan amarah. Mencari Tuhan dengan tulus lebih menjadi nyata ada di dalam hati sesama. Akan menjadi kendala yang besar jika saya dibatasi oleh perasaan amarah dan dendam. Tuhan akan menjadi sulit untuk saya jumpai di dalam diri sesama.

@ Terhadap dosa dendam dan amarah, Yesus menghadapkan kita pada satu usaha pembenahan diri yang radikal dan sangat menantang. Yesus bahkan mengingatkan kita untuk “menjaga diri” – jaga hati dan pikiran. Salah satu cara menjaga hati dan pikiran agar tetap tulus dan suci adalah dengan cara membangun komunikasi di bawah empat mata. Jangan ada dendam. Atau orang Ambon istilahkan dengan “jangan ada “ bicara di belakang-belakang ” atau jangan “ tikang beta dari belakang”. Lebih ekstrim, Yesus menegaskan, ” jika seseorang berbuat dosa, tegurlah dia. Dan jika ia menyesal, ampunilah dia. Bahkan jika ia berbuat dosa terhadapmu tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata “Aku menyesal”, engkau harus mengampuni dia.”

@ Tuhan Yesus sungguh-sungguh menekankan dua hal ini: kerendahan hati untuk mengampuni dan membangun komunikasi yang terbuka dan jujur. Saya yakin, dengan bermodal dua hal di atas, saya boleh belajar untuk memaafkan dengan tulus, mengampuni dengan kejujuran hati. Saya yakin, dengan bermodalkan dua kualitas di atas, saya akan selalu belajar untuk SIAP MEMINTA MAAF dan SIAP MEMAAFKAN tanpa ada persyaratan apa pun. Entah alasannya apa, entah kepada siapa, maaf tetaplah maaf dari ketulusan. Tidak untuk hal tertentu baru ada maaf. Tidak hanya untuk orang tertentu baru ada ampun. Sama dengan denda sehari sama besarnya dengan denda setahun, maaf tetaplah tak bersyarat. Dengan ini, tidak ada lagi amarah atau dendam yang terselip di relung hati yang dalam yang mungkin saja menciptakan luka batin dan bahkan sakit penyakit. Enak sih kedengaranya, tetapi prakteknya tentulah bukan sekedar membalikkan telapak tangan. Dan oleh karena itu, seperti para murid yang memohon Yesus, saya juga berseru dengan nada yang sama: “ Tuhan, tambahkanlah imanku ..” Semoga demikian..Tuhan memberkati….. padrepiolaweterengsvd 🙏🏼🙏🏼🙏🏼🙏🏼