SPIRITUALITAS IMAMAT: PART #2


OLEH: YOS PATRIS MSC

Di abad yang baru ini, seorang imam masih sangat dibutuhkan. Selama Gereja ada, imam tetap ada. Dia akan menguduskan umat, dia akan berbicara tentang mana yang salah dan benar bak seorang nabi. Dia juga akan memimpin sekelompok kawanan kecil yang dipercayakan kepadanya. Pada tulisan ini kami mendalami kehidupan serta cara paus Fransiskus dalam pelayanannya sebagai seorang imam. Intinya seorang imam yang baik sebaiknya menjiwai hakikat panggilannya sebagai Alter Christus (Kristus yang lain) dengan menghayati spiritualitas imamat yang bertumpu pada tiga hal sebagai berikut:

NILAI CINTA KASIH MENJADI PEGANGAN UTAMA. Seorang imam dapat mengembangkan nilai ini ketika ia menghidupi spiritualitas imamatnya. Sama seperti pasangan suami dan istri yang memperjuangkan suatu nilai dalam relasi mereka, si imampun harus bisa menemukan suatu nilai atau alasan yang mendorongnya menghidupi panggilannya sebagai seorang imam. Seorang imam bisa menghidupi semangat cinta yang mendalam seperti yang ditunjukkan oleh Paus Fransiskus. Cinta itu tidak bersifat eksklusif tetapi tebuka terhadap sebanyak mungkin orang, menghadirkan bela rasa bagi orang lain dan menutup godaan untuk cinta terhadap diri sendiri. Bila Kristus terlebih dahulu memilih seseorang menjadi imam-Nya, hal itu terjadi karena cinta-Nya yang besar. Seorang imam harus mampu membalas dan meneruskan cinta Allah itu kepada umat yang ia layani.

BERTINDAK SEDERHANA NAMUN TETAP KONSISTEN. Seperti Paus Fransiskus yang tampil apa adanya tanpa mengeluh atau menginginkan perlakuan khusus, seorang imam bisa menghayati spiritualitas imamat jabatannya dengan tidak mengeluh bila ia dipanggil untuk tugas yang lumayan berat. Seorang imam harus rendah hati bukan menjadi orang yang tergila-gila pada jabatan, status tertentu dengan tempat tugas yang menyenangkan. Imam yang bisa menghayati imamat jabatannya secara optimal pasti tidak menghayal secara berlebihan, atau berusaha mengejar target-target karena ia bisa frustrasi dan depresi bila suatu ketika apa yang diimpikan tidak terwujud.

PELAYANAN KEPADA ORANG “KECIL”. Salah-satu ciri khas spiritualitas imam menurut konsili vatikan II adalah pelayanan. Pelayanan itu simbol bagi para imam. Pelayanan itu ditujukan pertama-tama kepada kaum marginal. Paus Fransiskus telah menunjukkan bahwa orang terpinggirkan bisa menjadi saluran rahmat Allah. Seorang imam bisa menghidupi panggilannya melalui pelayanan kepada orang miskin dan terpinggirkan. Paus menyatakan bahwa Gereja kita bukanlah suatu organisasi besar melainkan Gereja kaum miskin dan sakramen keselamatan Allah. Seorang imam bisa berpartisipasi di dalam Gereja itu dan yakin kalau apa yang dibuatnya memberkati jalan panggilannya di masa-masa yang akan datang. (YOS PATRIS MSC)