Yes. 49:3,5-6; 1Kor. 1:1-3; Yoh. 1:29-34.
HM Biasa II/Minggu, 18 Januari 2026
Yesus adalah Anak Domba Allah. Gelar Anak Domba Allah menunjuk pada pengorbanan. Dalam tradisi Yahudi, anak domba dijadikan sebagai korban atas dosa-dosa (bdk. Kel. 29:39). Selain itu, Hari raya utama orang Yahudi adalah (dan tetap) Paskah. Dalam upacara Paskah, setiap keluarga mengorbankan dan memakan seekor domba untuk mengenang pembebasan mereka dari Mesir pada zaman Musa. Pada saat itu, Allah membunuh semua anak sulung dan hewan-hewan orang Mesir, tetapi menyelamatkan anak sulung dan hewan-hewan orang Israel. Untuk menunjukkan rumah tangga mana yang harus dilewati malaikat maut, Allah memerintahkan orang Israel untuk membunuh seekor domba dan menandai ambang pintu mereka dengan darahnya. Dengan demikian, domba Paskah melambangkan kasih Allah yang penuh belas kasihan dan menyelamatkan.
Gelar Yesus sebagai Anak Domba Allah berangkat dari konteks tersebut. Dia adalah korban dan silih atas dosa-dosa manusia. Dia menjadikan dirinya sendiri sebagai korban; Allah menjadikan diri-Nya sendiri, dalam diri Yesus Kristus, sebagai korban. Dia adalah imam yang merayakan korban, dan sekaligus kurban. Dalam Perjanjian Lama imam mempersembahkan korban binatang (terutama anak domba) sebagai korban pendamaian dan penebusan dosa (bdk. Im 16; Kel 12). Dalam Perjanjian Baru, Yesus bukan hanya imam, tetapi juga korban itu sendiri. Dia mempersembahkan diri-Nya sendiri (Ibr 9:11–14).
Dalam Ekaristi, Yesus, Anak Domba Allah selalu dihadirkan. Setiap kali kita hadir dalam Ekaristi, kita melihat dan mengalami secara langsung Yesus, Anak Domba Allah yang merayakan Ekaristi dan sekaligus menjadi kurban dalam perayaan Ekatristi. Gereja, melalui Sacrosanctum Concilium menyebutkan, “Kristus selalu mendampingi Gereja-Nya, terutama dalam kegiatan-kegiatan liturgis. Ia hadir dalam Kurban Misa, baik dalam pribadi pelayan, karena yang sekarang mempersembahkan diri melalui pelayanan imam sama saja dengan Dia yang ketika itu mengorbankan Diri di kayu salib, maupun terutama dalam (kedua) rupa Ekaristi” (Art. 7). Untuk itu, kesetiaan dalam Ekatisti merupakan kesempatan untuk mengalami Kristus dan menimbah rahmat kekudusan dari Yesus sendiri. Dalam Ekaristi, Yesus menghapus dosa-dosa kita, dan menguduskan kita. Maka setiap kali mengikuti Ekaristi, hidup kita menjadi kudus.
Selain itu, gelar Yesus sebagai Anak Domba Allah mengajak kita untuk bersedia untuk berkorban. Hidup orang beriman adalah hidup yang bersedia untuk berkorban atau memberi diri. Dalam kaitan dengan pelayanan, maka seorang pelayan gereja adalah orang-orang yang berani berkorban, memberi diri, memberi waktu, dan tenaga. Dalam kehidupan keluarga, pengorbanan juga menjadi aspek penting dalam membangun kehidupan rumah tangga. Kepada keluarga-keluarga Katolik, Paus Fransiskus katakan, “persekutuan hidup keluarga hanya dapat lestari dan makin sempurna berkat semangat berkorban yang besar” (AL, art. 106). Dasar dari pengrobanan adalah cinta kasih (bdk. AL, art. 157). Amin. @novlymasriat.









