Luk 5:12-16
Jumat, 9 Januari 2026Injil hari ini menjelaskan tentang penyembuhan seorang kusta. Seorang kusta tersungkur dan memohon kesembuhan dari Yesus. Sikap orang kusta ini menunjukkan kerendah diri dan kepasrahan hati di hadapan Tuhan. Ini sebuah sikap iman yang tepat ketika sedang berdoa. Semangat kerendahan diri, kesadaran akan kelemahan dan keterbatasan, dan kepasrahan terhadap Tuhan harus menjadi sikap lahiriah dan batiniah dalam berdoa. Sikap sujud dan kepasrahan orang kusta mendatangkan kesembuhan. Tuhan tidak akan pernah melupakan orang yang memohon bantuan kepada-Nya. Dia tahu momen yang sesuai untuk menjawab setiap doa kita. Paus Fransiskus katakan, “marilah kita meletakkan segala hal di dalam Dia, membiarkan Dia membuat upaya-upaya kita berbuah pada waktu sebagaimana yang Dia pandang baik” (Evangelii Gaudium, art. 279). Selain itu, penyembuhan orang kusta tersebut juga menunjukkan keberpihakan Yesus bagi orang yang lemah. Yesus tidak alergi dengan orang miskin, sakit, dan berdosa. Dia datang untuk merangkul, menguatkan, menghibur, mengubah, menyembuhkan, dan menyelamatkan mereka. Paus Leo XIV, dalam salah satu bagian dari surat apostoliknya Dilexit Te mengajak umat kristiani untuk memeliki kasih kepada orang-orang sakit. Paus menegaskan bahwa perhatian kepada orang sakit merupakan panggilan setiap orang beriman. Paus mengajak semua orang kristiani untuk memperhatikan orang sakit dengan mengunjungi dan merawat mereka, bagaikan seorang ibu yang merawat anaknya. Paus juga katakan bahwa pelayanan kepada orang sakit bukan sebuah tindakan filantropis semata (bentuk tindakan sukarela yang dilandasi kasih kepada sesama untuk meningkatkan kesejahteraan dan martabat manusia), tetapi tindakan gerejawi di mana anggota Gereja “menyentuh daging Kristus yang menderita”. Pelayanan orang sakit bukan sekedar kewajiban moral untuk menghormati martabat manusia, tetapi sebagai bentuk pelayanan kepada Tuhan.
Paus Leo XIV menegaskan bahwa Kerajaan Allah dimulai dalam diri orang-orang yang paling rentan, yaitu orang sakit. Gereja sungguh-sungguh memenuhi panggilan terdalamnya ketika menghadirkan Kerajaan Allah ketika gereja menolong penderita kusta, anak yang kekurangan gizi, atau orang yang sekarat tanpa nama. Panggilan terdalam gereja adalah melayani Tuhan di tempat Dia paling ternoda, terlupakan, sakit, dan cacat. Maka melayani orang sakit, tidak hanya sebagai bentuk solidaritas manusiawi semata, tetapi sebagai bentuk cinta kepada Tuhan. Orang sakit adalah tanda kelihatan dari Tuhan.
Marilah kita tetap percaya bahwa setiap permohonan yang dipanjatkan dalam doa yang penuh kerendahan hati dan kepasrahan penuh pasti didengarkan oleh Tuhan. Kita juga meminta bantuan Tuhan agar menggerakan hati kita untuk membantu orang-orang sakit. Kita bedoa kepada kita, semoga hati kita terpanggil untuk tidak hanya berbicara tentang penderitaan, tetapi mau juga menyentuh penderitaan Tuhan dalam diri orang-orang sakit. Amin.









