DAILY WORDS, SENIN, 1 DESEMBER 2025
PEKAN I ADVENTUS – TAHUN A
PW B. DIONISIUS DAN REDEMPTUS
BY RP. PIUS LAWE, SVD
BACAAN I : YES 2: 1 – 5
MAZMUR T. : MZM 122: 1 – 2. 3 – 4a. (4b – 5. 6 – 7). 8 – 9
INJIL : MAT 8: 5 – 11
@ Saya barusan kembali dari kampung halaman. Saya bawa serta dengan kuliner khas orang Lamaholot ( Flores bagian Timur, Solor, Adonara, Lembata, Pantar dan Alor ) yang dikenal dengan sebutan JAGUNG TITI. Saat ini, jagung titi sudah menjadi kuliner yang populer bahkan sampai di manca negara. Sepanjang perjalanan kembali ke Masohi, saya singgah dan membagi kepada siapa yang berkeinginan untuk mencicipinya. Ketika masuk kota Ambon, ada saudara yang bukan Kristen bertanya tentang ole-oleh khas Lamaholot . Saya sodorkan JAGUNG TITI. Sebelum Saya menawarkan JAGUNG TITI, saya katakana jangan sampai ini makanan yang HARAM karena diproduksi oleh keluargaku yang nota bene Katolik. Beliau dengan sigap menjawab, “ Pater, kecuali ada daging hewan yang haram bagi kaum Muslimin. Kan ini JAGUNG TITI“. Dia lalu melahapnya dengan nikmat. Garing – gurih. Ya, di Maluku Tengah khususnya di Masohi, masih terjaga ketat konsep dan keyakinan akan hmakanan-makanan yang HARAM jika bukan dimasak atau diolah oleh saudara/I Muslim sendiri. Saya yang datang dari NTT dengan pembauran yang tidak mengenal haram siapapun yang memasak atau memproduksikannya, memang merasa agak lain namun saya meyakini sebagai satu keyakinan umat beragama lain. Oleh karena itu saya menyesuaikannya sebagai tatanan sosial religius yang perlu dihargai. Saya meyaikininya sebagai tindakan toleransi meskipun jika dilihat dengan cermat, ini sebuah model toleransi yang searah. Anyway, just enjoy it!!
@ Kembali kepada saudaraku muslim yang makan JAGUNG TITI dengan lahapnya tanpa peduli kalau itu dihasilkan oleh keluargaku yang Katolik. Suatu cerminan sikap yang INKLUSIF dan bukan EKSKLUSIF. Amazing and It was a very touching moment (luar biasa dan menjadi satu moment yang menyentuh. Ini juga sebuah pembelajaran bagiku agar saya tidak membangun sikap EKSKLUSIF di dalam relasi sosial (tidak memisahkan diri dari yang lain).
@ Nabi Yesaya menyerukan satu sikap eksklusivisme dari Allah. Dia menyerukan, “ pada hari-hari yang terakhir akan terjadilah hal-hal ini: di atas gunung-gunung dan menjulang tinggi di atas bukit-bukit. Segala bangsa akan berduyun-duyun ke sana, dan banyak suku bangsa akan pergi serta berkata,… ” (Yes 2: 2b-3a ). Yesaya tidak menyebut jika Allah mengklaim hanya suku bangsa tertentu yang datang ke atas gunug Tuhan, ke rumah Allah Yakub. Yesaya menekankan jika yang datang adalah SEGALA SUKU BANGSA. Warta ini sangat INKLUSIF – merangkul semua bangsa tanpa mengeksklusif-kan bangsa-bangsa atau kelompok-kelompok tertentu.
@ Sifat Allah yang merangkul semua suku bangsa ( sifat inklusif) tampak jelas dalam tindakan Yesus menyembuhkan hamba seorang perwira Romawi. Meskipun perwira itu bukan berkebangsaan Yahudi, tetapi Yesus tanpa tedeng aling-aling menyembuhkan hamba dari perwira yang sakit lumpuh yang berkepanjangan. Meskipun Perwira itu merasa tidak layak karena dia bukan seorang Yahudi, toh Tuhan Yesus tetap melakukan tindakan penyembuhan. Tuhan sungguh mencintai semua orang tanpa pandang bulu. Yesus pun menekankan satu point penting tentang inklusivitas Allah dengan mengatakan jiwa pada akhir zaman semua orang akan datang dari Timur dan Barat dan duduk makan bersama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Surga.
@ Kita saling mendokan, semoga kita dapat menumbuhkan sikap yang merangkul atau melibatkan semua orang dalam pergaulan sehari-hari tanpa memandang siapa dia, dari mana dia berasal, apakah dia sependapat dengan saya atau tidak, apakah dia se-keyakinan dengan saya atau tidak. Ingat, Tuhan sendiri tidak pernah menginginkan eksklusivitas. Mari kita kenakan semangat Beato Dionisius dan Redemtus yang keluar dari Eropa dan mewartakan Injil di Indonesia, tepatnya di wilayah Aceh meskipun pada akhirnya mereka dibunuh. Have a good evening, filled with love and forgiveness. My warm greetings from Masohi manise …. padrepiolaweterengsvd









