DAILY WORDS, MINGGU, 12 OKTOBER 2025
MINGGU BIASA XXVIII – TAHUN C
BY RP. PIUS LAWE, SVD
BACAAN I : II RAJ 5: 14 – 17
MAZMUR T: MZM 98: 1.2.3ab.3cd.4
BACAAN II: II TIM 2: 8 -13
INJIL : LUK 17: 11 – 19
# Dalam dunia nyata, kita temukan begitu banyak kaum extrimis. Mereka menjadi ekstrim dan fanatik akan budaya, bahasa dan bahkan iman atau keyakinannya. Orang lain di luar kelompoknya bahkan dicap “kafir”, “animis”, “ateis”, dst. Diskriminasi seperti ini pun terjadi di antara kaum beriman – sesama pemeluk agama. Dalam Gereja Katolik, sering terjadi pengelompokan orang berdasarkan “yang lebih kudus”, ” lebih dekat dengan Tuhan”, “lebih layak tampil atau mengambil peran dalam liturgi, dsb.nya. Ada kelompok kategorial dalam Gereja Katolik bahkan membangun “gab” dan merasa mereka itu “spesial atau istimewa” dan yang lain “kurang layak”. Ya, itulah kenyataan yang terjadi dalam kehidupan sosial religius maupun sosial kemasyarakatan. Apa mau dikata. Hal ini akhirnya menjadi bukan hal yang baru, dan bahkan dianggap “lumrah” dalam kehidupan menggereja. Miris memang!!
# Pengalaman mukjizat pentahiran yang dialami Naaman – panglima Raja Aram merupakan satu pengalaman iman yang membuktikan bahwa Allah tidak pernah memilah “siapa yang mesti diselamatkan”. Semua anak manusia, entah dari suku bangsa, golongan atau kelompok manapun, semuanya diperhitungkan oleh Allah. Belaskasih Allah melampaui syarat-syarat atau kondisi-kondisi yang lahir oleh karena kepentingan individual atau kelompok tertentu. Meskipun Naaman adalah seorang yang berbangsa Aram (bukan Yahudi), namun Allah, lewat hambaNya Elisa, membuat dia menjadi tahir dari sakit kusta yang ia derita. Ini adalah suatu bukti bahwa Allah mencintai manusia melampaui batas suku, agama atau golongan. Kuncinya adalah respon balik atau iman seseorang sebagai tanggapan atas cinta Allah. Naaman, meskipun dia adalah orang “bukan Israel” toh tahu bersyukur dan berterima kaaih kepada Allah atas mukjizat yang terjadi atas dirinya.
# Pengalaman iman yang sama dialami oleh seorang kusta berkebangsaan Samaria (dianggap bangsa kafir dan najis oleh orang Israel) bersama dengan sembilan sahabatnya yang sama-sama menderita penyakit kusta. Mirisnya, dari kesepuluh orang kusta yang ditahirkan oleh Yesus, hanya orang Samaria yang telah disembuhhkan ini kembali kepada Yesus dan mengucap syukur. Dia -orang Samaria, meskipun dia diremehkan oleh orang Israel sebagai seorang asing atau kafir, setelah disembuhkan oleh Tuhan Yesus yang nota bene dikenal sebagai orang Yahudi, kembali kepada Yesus untuk mengucap syukur. Ini adalah satu sikap iman yang mesti kita teladani.
# Dari kisah pentahiran Naaman -Panglima Raja Aram dan kisah penyembuhan 9 orang Israel dan satu orang Samaria oleh Yesus, dan hanya orang Samaria ini yang tahu bersyukur, ada hal penting yang mestinya dapat saya teladani. Pertama , saya belajar untuk MENCINTAI SEMUA ORANG TANPA menyepelehkan kelompok atau individu yang lain dan mengkhususkan satu individu, golongan atau suku tertentu. Allah telah memberi contoh tentang hal ini: MENCINTAI SEMUA ORANG. Kedua , sebagai imam dan biarawan misionaris, saya belajar untuk tidak merasa superior terhadap orang lain, belajar untuk tidak merasa lebih kudus-lebih baik-lebih layak-lebih bermartabat dan beradab dari orang lain. Ketiga , sebagai imam dan biarawan misionaris, saya belajar untuk tahu bersyukur dan memberi penghargaan atau apresiasi yang layak kepada sesama meskipun apa yang mereka lakukan terhadapku tampak sederhana dan bahkan dipandang tidak berarti. Keempat , menghalau sikap superior, egoisme, sukuisme dan isme-isme yang lain bukanlah hal yang mudah. Mencintai secara inklusif dan tanpa syarat bukanlah pekerjaan yang mudah. Semuanya membutuhkan pengorbanan. St. Paulus dalam suratnya yang kedua kepada Timotius mengajak kita untuk BERKORBAN – BELAJAR MEMATIKAN RASA EGOISME, SUKUISME dan ISME-ISME yang lain sebagaimana KRISTUS TELAH MENANGGALKAN SEGALANYA untuk menanggung kesalahan kita. Ingat antiphon Maznur Tanggapan hari ini yang menegaskan bahwa Allah menunjukkan cintaNya kepada segala bangsa dan bukan kepada suku bangsa tertentu.
# Mari kita saling mendoakan, semoga Allah menolong kita dengan Roh Kudus-Nya agar kita dapat mencinta sesama tanpa membeda-bedakan atau tanpa mengkhususkan orang atau kelompok tertentu. Have a blessed weekend and a wonderful Sunday, filled with love and mercy. padrepiolaweterengsvd









