DAILY WORDS, RABU, 8 OKTOBER 2002
PEKAN BIASA XXVII – TAHUN C
BY RP. PIUS LAWE, SVD
BACAAN I : YUN: 4 : 1 – 11
MAZMUR T: MZM 86: 3-4.5 – 6.9 -10
INJIL : LUK 11: 1 – 4
@ Dua tahun belakangan, dunia kita sedang diobrak-abrik oleh perang antara Israel dengan kelompok-kelompok pemberontak yang disinyalir didukung atau didanai oleh negara Iran. Ada kelompok yang pro Israel dan bahkan melihat misi Israel ini sebagai misi yang luhur dari Allah. Jika ini misi luhur Allah, dimanakah wajah belaskasih Allah bagi puluhan ribu jiwa penduduk Gaza yang telah melayang dan atau terluka? Pertanyaan ini bukan berarti saya sedang membela kelompok pemberontak. Tidak! Saya juga tidak mendukung kaum pemberontak seperti Hamas dan Hezbulla yang juga memakai jalan kekerasan ( violence ) dan mengklaim sebagai jalan Allah. Apakah mereka juga percaya pada Allah yang berbelaskasih?
@ Nabi Yunus merasa kecewa dan marah pada Allah karena Allah mengasihi orang-orang Niniwe. Pada waktu itu, orang-orang Niniwe dipandang sebagai bangsa yang jahat dan tidak mentaati perintah Allah. Namun demikian, kejahatan orang-orang Niniwe tidak akan membatalkan cinta dan belaskasih Allah terhadap mereka. Allah tetaplah sosok Bapa yang berbelaskasih apapun kejahatan yang dilakukan orang-orang Niniwe.
@ Pemazmur menegaskan sifat belas kasih Allah sebagai Bapa yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia. Allah adalah sosok yang suka mengampuni. Dia senantiasa memberikan kita kesempatan untuk bertobat. Selalu ada ruang PERTOBATAN bagi manusia yang merindukan untuk kembali ke jalan yang benar.
@ Keyakinan akan Allah yang berbelaskasih ini ditegaskan oleh Yesus dalam isi doa yang diajarkanNya kepada para murid-Nya. ” Ampunilah dosa kami sebab kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami”.. Di sini, terdapat satu muatan pesan yang resiprokal – saling mengganjari saty dengan yang lain. Artinya, kita memohon Allah untuk mengampuni dosa-dosa kita karena kita telah lebih dahulu mengampuni yang berasalah kepada kita. Dengan kata lain, jangan pernah kita mengharapkan atau merindukan pengampunan dari Allah jika kita masih berkubang dalam dendam dan memory akan kesalahan orang lain kepada kita di masa lalu. Kalaupun Allah akan tetap mwngampuni, apalah artinya jika suasana batin kita masih terbelenggu oleh ingatan akan kesalahan orang lain kepada kita – alias dendam.
@ Ya, sebagaimana Allah telah berbelaskasih kepada orang-orang Niniwe, dan sebagaimana belaskasih Allah itu telah nyata kepada kita dalam diri Yesus Kristus, Sabda yang menjelma mwnjadi manusia, marilah kita menghidupi belas kasih Allah itu dalam relasi kita satu dengan yabg lain. Sebagai imam dan biarawan misionaris, saya mesti terus belajar untuk menunjukkan wajah belas kasih Allah dalam tugas penggembalaan. Terhadap suami, istri maupun anak, hendaknya saling menunjukkan belaskasih satu kepada yang lain. Terhadap tetangga, rekan kerja, bawahan terhadap atasan atau sebaliknya, mari kita saling berbelaskasih. Jangan ada dendam. Selesaikan semuanya sebelum matahari terbenam. Semoga demikian! Have a blessed day filled with love and compassion. Warm greeting from Kerker – pulau Teor to you all. padrepiolaweterengsvd









