EMBUN ROHANI PAGI DARI KOTA TIAKUR, PULAU MOA, MALUKU BARAT DAYASelasa, 29 November 2022Minggu Advent…
DAILY WORDS, SENIN, 25 NOVEMBER 2024
PEKAN BIASA XXXIV
BY RP. PIUS LAWE, SVD
BACAAN I : WHY 14: 1 – 3. 4b – 5
MAZMUR : MZM 24: 1 – 2. 3 – 4ab. 5 – 6
INJIL : LUK 21: 1 – 4
@ Kemarin, setelah dua kali misa perayaan Kristus Raja Semesta Alam, bersama Ketua Stasi Waipia dan Ketua sie Katekese, saya sempatkan diri mengunjungi tiga orang sakit. Dari ketiga orang sakit ini, saya sungguh terkesan dan sangat terharu dengan orang sakit yang terakhir, yaitu Bapa Andreas Nahak. Dia tinggal sendirian jauh dari komunitas Katolik di stasi Waipia. Usinya sudah 72 tahun. Statusnya tidak berkeluarga. Hidup dan tinggal nyaman dalam satu rumah papan tua yang sudah sangat usur. Kami bercerita dan sungguh, dia tidak menampakkan satu kesedihan dan kecemasan. Dia menerima apa adanya hidup dan keadaannya. Dalam kesendirian, dia mengalami kasih Tuhan lewat siapa saja yang senantiasa rela mengulurkan tangan membantu dia. Sungguh, kami menemukan WAJAH TUHAN dalam diri Bapa Andreas Nahak. Semoga Tuhan memeliharanya selalu dan memberikan dia kesehatan jasmani dan rohani serta sukacita dalam hidup.
@ Dalam permenungan pribadi setelah kembali mengunjungi orang-orang sakit, saya termenung dan sungguh mengalami bahwa wajah Bapa Andreas Nahak adalah sosok wajah Allah yang terlupakan di tengah hiruk pikuk-nya dunia yang serba bising ini. Wajah Tuhan Yesus – Raja Semesta Alam – sosok raja yang rendah hati, sosok raja yang warna hidup-Nya adalah SALIB, tampak dalam wajah Bapak Andreas Nahak. Mungkin inilah wajah Kristus Raja Semesta Alam yang mesti saya cari setiap hari dalam diri para pengungsi, para orang sakit yang terisolir dan semua saja yang kurang mendapat perhatian dari sesama di sekitar kita.
@ Saya terus saja bertanya diri: apakah saya senantiasa berusaha mencari wajah Tuhan dalam diri sesama yang menderita atau saya hanya sekedar memamerkan wajah Tuhan dalam kegiatan-kegiatan ritual – seremonial belaka tanpa ada kepekaan dan kepeduliaan terhadap sesama yang sedang menderita di tempat-tempat yang lain atau bahkan di sekelilingku? Dalam Antiphon Mazmur hari ini, tertulis demikian, “ Inilah angkatan yang mencari wajah-Mu, ya Tuhan. ” Setelah kunjungan kemarin, saya terus bertanya diri, “ Apakah saya termasuk di dalam angkatan yang mencari wajah Tuhan dalam diri sesama yang menderita? Ataukah saya adalah angkatan yang lebih suka membuang-buang anggaran pada hal-hal yang seremonial dan ritual belaka dan lupa cinta kasih yang praksis-nya ada dalam tindakanku membantu semua mereka yang menderita?
@ Pengalaman Janda Miskin di dalam Injil hari ini, yang memberi derma dari kekurangannya bahkan dari seluruh nafkahnya, adalah pengalaman seorang yang sungguh mencari wajah Tuhan dalam diri sesama yang menderita. Dia – Janda Miskin, meskipun tidak punya kelimpahan, namun justru lebih peka terhadap penderitaan sesama, dan rela memberi dari seluruh nafkahnya, karena dia percaya sungguh bahwa dari derma yang diberikan, bakal banyak “wajah Allah” yang tampak dalam diri para penderita, dapat tertolong. Tindakan Janda Miskin yang kontras dengan cara tindak banyak orang kaya pada waktu itu, sebenarnya satu cara menampar wajah para imam kepala dan ahli-ahli Taurat yang suka menekankan hal-hal yang ritual dan seremonial belaka di seputar Bait Allah dan lupa akan apa yang paling penting dalam hidup imannya, yaitu mencari wajah Allah yang ada dalam diri sesama yang menderita.
@ Mencari wajah Allah adalah satu tindakan “pencarian” seorang beriman karena dia sadar bahwa wajah Allah yang konkrit ada dalam “ wajah sesama yang menderita ”. Hal ini tentu saja berbeda dengan mereka yang “ menghunjukkan Allah ” kepada dunia lewat ritus atau seremoni akhbar tertentu. Dalam bimbingan rohani yang saya berikan kepada umat pada akhir bulan Oktober, di saat prosesi Arca Bunda Maria, saya menekankan dengan tegas point berikut ini: cara kita menghunjukkan sosok Maria kepada dunia hanya dapat keluar dari “ pengalaman batin keakraban personal ” dengan Maria dalam hidup pribadi seseorang. Apalah artinya jika saya menghunjukkan Maria kepada dunia namun secara batiniah, saya justru tidak akrab dengan Bunda Maria. Begitupun dengan Wajah Allah. Apalah artinya jika saya hendak menghunjukkan wajah Allah kepada dunia jika saya sendiri kurang atau bahkan tidak akrab dengan Allah di dalam kehidupan pribadiku? Saya selalu mengingatkan diri saya seperti ini: jika saya hendak mewartakan Kristus/menghunjukkan wajah-Nya kepada dunia, mestinya saya terlebih dahulu mengalami keakraban spiritual/rohani dengan Yesus. Dan keakraban rohani/spiritual dengan Yesus hanya dapat saya alami bukan hanya di dalam Ekaristi, doa pribadi dan baca Kitab Suci, tetapi terlebih di dalam diri atau wajah sesama yang menderita. Dengan kata lain, iman “yang sungguh dalam” yang terungkap dalam relasi batiniah/rohaniah dengan Yesus, hanya menjadi konkrit di dalam kepedulian atau kepekaan saya akan sesama di sekitarku. Inilah yang sungguh ditunjukkan oleh si Janda Miskin di dalam Injil hari ini.
@ Mari kita saling mendoakan. Pertama , semoga kita tidak saja “ menghunjukkan Wajah Yesus” kepada sesama dalam kegiatan-kegiatan seremonial belaka, tetapi lebih dalam tindakan praksis: kepedulian/kepekaan terhadap sesama di sekitar kita sebagaimana yang telah dibuat oleh si Janda Miskin; kedua , semoga kita selalu membangun kerinduan mendalam untuk mencari “ Wajah Tuhan” di dalam diri sesama yang menderita, dalam dan lewat tindakan “ memberi ” bahkan dari seluruh nafkah yang kita punya. Ketiga , semoga saya – imam-mu, tidak membangun hidup imamat dan hidup membiara-ku di atas “ Menara Gading ” kegiatan-kegiatan yang ritual dan seremonial semata, tetapi diimbangi dengan tindakan praksis-ku menjangkau sesama yang terlupakan dan yang menderita.
@ Saya yakin, dengan mencari dan menjangkau “ Wajah Allah” dalam diri sesama yang menderita, maka pada saatnya, sebagaimana dalam penglihatan Yohanes di dalam kitab Wahyu, kita semua bakal ada bersama Seratus Empat Puluh Empat Ribu Orang, yang mana, pada dahi setiap kita tertulis nama Anak Domba dan nama Bapa-Nya. Have a good and blessed Monday filled with love and mercy. Warm greetings from Masohi manise…padrepiolaweterengsvd🙏🏽🙏🏽🙏🏽🙏🏽🙏🏽
EMBUN ROHANI PAGI DARI KOTA SAUMLAKI, KEPULAUAN TANIMBARJumat, 04 April 2025Hari Biasa Pekan IV PrapaskahInjil:…
EMBUN ROHANI PAGI DARI KOTA AMBON MANISEKamis, 03 April 2025Hari Biasa Pekan IV PrapaskahInjil: Yoh.…
EMBUN ROHANI PAGI DARI KOTA AMBON MANISERabu, 02 April 2025Hari Biasa Pekan IV PrapaskahInjil: Yoh.…
EMBUN ROHANI PAGI DARI KOTA AMBON MANISESelasa, 01 April 2025Hari Biasa Pekan IV PrapaskahInjil: Yoh.…
EMBUN ROHANI PAGI DARI KOTA MAKASARSenin, 31 Maret 2025Hari Biasa Pekan IV PrapaskahInjil: Yoh. 4…
Yos. 5:9a,10-12; 2Kor. 5:17-21; Luk. 15:1-3,11-32 HM Prapaskah IV/Minggu, 30 Maret 2025 Kisah injil hari ini menggambarkan dengan luar biasa sikapseorang bapa yang begitu baik hati dan penuh pengampunanbagi anak-anaknya. Bapa ini tabah berhadapan denganketidakonsistenan anak-anaknya, penuh kasih dan pengampunan. Sosok seorang Bapa yang Yesus jelaskan dalaminjil mengajak kita untuk menyadari bahwa Allah sungguhmemilki kasih yang luar biasa hebat bagi manusia. Kita mungkinsudah menghabiskan banyak waktu menjauh dari Tuhan denganberbagai dosa, tetapi Allah akan lebih banyak lagi menawarkanpertobatan untuk kita. Kita mungkin sudah melupakan Tuhan100 kali, tetapi Allah akan memaafkan kita 200 kali. Misteri paskah adalah gambaran konkret dari Allah yang berbelas kasih. Yesus diutus untuk menyelematkan kita darisegala dosa kita, yang akan kita rayakan sepanjang pekan sucidan dipuncaki dengan perayaan kebangkitan Tuhan pada hariraya paskah adalah gambaran Allah yang penuh belas kasih. Misteri paskah ini menjadi ungkapan Allah…