MAAFKAN DIRIMU

Bagikan kepada teman-teman anda ....
RD. Theo Amelwatin ( Dosen di STFT Fajar Timur dan Konselor di Seminari Tinggi Interdiosesan “Yerusalem Baru”, Jayapura

Bagitu banyak dari antara kita yang mengalami kesulitan untuk membebaskan diri dari perasaan rendah diri, kesedihan, stres, kecemasan dan depresi. Terpenjara dalam kondisi mental tersebut di atas membuat kita merasa tidak pantas untuk menjalani hidup. Semakin lama kita berada dalam penjara kondisi mental yang buruk itu, makin besarlah dampak buruk yang diakibatkan olehnya. Kita akan mudah berpikir dan merasa bahwa kita tidak layak untuk mengalami kebahagiaan; tidak layak pula untuk mencintai dan dicintai.
Berhati-hatilah untuk membiarkan diri kita (pikiran dan perasaan) terperangkap dalam jeruji atau lingkaran pikiran dan emosi-emosi negetif tersebut karena sebetulnya kita sedang menggali kubur untuk diri sendiri dan perlahan-lahan memadamkan seluruh potensi diri yang ada dalam diri kita.

Supaya bisa bergerak menuju masa depan yang lebih baik, kita perlu merubah cara berpikir! Yang paling utama dari semuanya adalah memaafkan diri sendiri.
Maafkan apa yang sudah terjadi di masa lalu yang barangkali membuat kita marah, menyesal, atau trauma. Biarkan semuanya itu pergi menjauh bersama sang waktu yang sudah lewat. “Yang lalu biarlah berlalu”. Bersikaplah ramah pada diri kita sendiri, dan sayangilah diri kita.
Pandanglah diri kita dengan menggunakan lensa belas kasih. Bahwa kita adalah manusia. Manusia tak pernah luput dari penderitaan dan kesalahan.

Dengan memaafkan diri sendiri, memaafkan tindakan, pikiran, dan emosi-emosi negetif yang terjadi di masa lampau, sejatinya kita telah menciptakan ruang baru untuk batin yang merdeka dan bebas. Dari titik inilah perubahan ke arah yang lebih positif itu terjadi.

Salam,
Theo Amelwatin