MENJADI YOHANES PEMBAPTIS DI ERA DIGITAL

Bagikan kepada teman-teman anda ....

DAILY WORDS, KAMIS, 22 JUNI 2022
HR KELAHIRAN ST. YOH PEMBAPTIS
PEKAN BIASA XII
BY RP. PIUS LAWE, SVD

BACAAN I : YES 49: 1-6
MAZMUR : MZM 139:1-3.13-14ab.14c-15
BACAAN II : KIS 13:22-26
INJIL : LUK 7: 57 -66.80

@ Yohanes, nabi yang merintis dan menyiapkan jalan bagi Tuhan. Warta utamanya adalah PERTOBATAN semua umat manusia untuk mempersiapkan jalan bagi datangnya Tuhan. Teriakan Yohanes terkesan PEDAS bagi yang mendengarkannya. Sungguh, dia adalah seorang nabi besar. Nabi identik dengan kritik sosial keagamaan. Tentu teriakan Yohanes berisi kritik sosial yang pedas, tegas, masuk menerobos relung hati para pebdengarnya. Benar apa yang dikatakan nabi Yesaya, “Ia telah membuat mulutku sebagai pedang yang tajam….Ia telah membuat aku menjadi anak panah yang runcing…”. Ya, Yohanes benar-benar menghidupi identitasnya. Seruannya keras tanpa tedeng aling-aling.

@ Kehadiran dan peran Yohanes Pembaptis bukanlah sebuah kehadiran dan peran yang lahir dari suatu kebetulan. Bukan juga sebuah ambisi pribadi atau fanatisme kelompok. Kehadiran dan perannya telah direncanakan oleh Allah. Seruan nabi Yesaya dan Pemazmur yang kita baca atau dengar hari ini menegaskan bahwa Yohanes Pembaptis dan kehadiran serta perannya telah direncanakan Allah. “Tuhan telah membentuk aku sejak dari kandungan untuk menjadi hamba-Nya..” (Yes 49:5). ” Engkaulah yang membentuk buah pinggangku. Engkaulah yang menenun aku dalam kandungan ibuku..” ( Mzm 139:13). Yakinlah, dari kata-kata nabi Yesaya dan Pemzmur, kehadiran dan peran Yohanes merupakan hasil rancangan Allah, bukan ambisi pribadi atau kehendak kelompok tertentu. Keterpanggilan Yohanes Pembaptis merupakan sebuah anugerah dan bukan hasil pemilihan demokratis atau penentuan oleh sebuah otoritas sosial kemasyarakatan atau keagamaan tertentu. Ini sebuah rancangan ilahi.

@ Satu hal yang sungguh menggelitik hati kita adalah soal PERAN Yoh Pembaptis. Dia hanyalah perintis, yang mempersiapkan jalan bagi datangnya Sang Emanuel. Dia bukanlah Mesias. Dia menyiapkan jalan bagi Mesias. Dia CUMA seorang HAMBA yang rendah hati, tidak mempopulerkan dirinya sendiri. St. Lukas menulis secara jelas peran Yohanes Pembaptis dalam kata-kata ini, “Aku bukanlah Dia yang kamu sangka, tetapi Dia akan datang kemudian dari pada aku. Membuka tali kasut dari kaki-Nya pun aku tidak layak.” Inilah cerminan posisi yang amat jelas dari Yohanes Pembaptis. Dia menjadi kecil supaya Yesus sang Mesias menjadi besar. “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.” (Yoh 3:30) . Spirit dan prinsip Yohanes Pembaptis adalah supaya Yesus menjadi makin besar dan dia menjadi semakin kecil. Inilah suatu kebesaran jiwa sang nabi perintis, yaitu siap menjadi semakin kecil, Yesus menjadi semakin besar. Yohanes tidak membutuhkan pangkat atau kedudukan, kekayaan dunia, dst. Dia tetaplah seorang hamba sahaya yang militan dalam isi warta kenabian dan seorang figur rohani yang lebih suka bermain di belakang layar. Dia tidak membutuhkan atau mengharapkan respek. Dia tidak gila hormat. Dia tidak mengimpikan popularitas duniawi.

@ Berkaitan dengan kehadiran dan peran Yohanes Pembaptis di atas, satu pertanyaan muncul dari dalam benakku demikiam, “Adakah Yohanes-Yohanes Pembaptis yang baru di era digital ini?” Ini sebuah pertanyaan kontekstual, yang sungguh menantang setiap agen pastoral baik imam, biarawan/i, para pewarta yang banyak terlibat di dunia medsos seperti youtube, twitter, instagram, facebook, whatsapp, dst. Banyak pemimpin agama dan pewarta yang secara kreatif mewartakan Firman Tuhan lewat medsos. Kita bersyukur dan berbangga akan kemajuan yang sangat pesat ini. Namun, apakah kita sungguh menggunakan media ini secara kreatif demi memuliakan Allah atau sebaliknya mengejar mamon dan popularitas pribadi? Apakah melalui media digital ini, warta perdamaian dan cinta kasih yang kita dengungkan atau hanya sekedar sebuah aktifitas sensasional yang berusaha mempopularitaskan diri dan mengejar target followers untuk menghasilkan uang sebanyak-banyaknya demi memperkaya diri? Atau ini sekedar sebuah wadah untuk menyebarkan fanatisme ajaran agama dan secara tidak sadar mengsubordinasikan ajaran agama dan keyakinan yang lain?

@ Pada pesta Kelahiran Yohanes Pembaptis ini, saya mengajak kita sekalian untuk berbenah diri, memohon Roh Kudus untuk memurnikan motivasi dari setiap penggunaan sarana media sosial di era digital ini. Semoga apa pun yang kita lakukan secara kreatif di era digital ini adalah hanya untuk KEMULIAAN ALLAH. Ingat, IA HARUS MAKIN BESAR TETAPI AKU HARUS MAKIN KECIL. Have a good evening filled with a humble and loving heart….God bless you all❤❤❤❤🙏🙏🙏🙏🙏