SUMARAH PADA TUNTUNAN ALLAH

Bagikan kepada teman-teman anda ....

DAILY WORDS, RABU, 24 MEI 2022
PEKAN PASKAH VI
BY RP. PIUS LAWE, SVD

BACAAN I : KIS 16: 22-34
MAZMUR : MZM 138: 1-2a.2b-3. 7c-8
INJIL : YOH 16: 5-11

@ Sebagai orang yang sungguh beriman pada Allah secara tulus, saya tentu tidak menjalin relasi dengan Allah secara fungsional. Artinya, saya tidak hanya berelasi dengan Allah di saat penderitaan datang menimpa hidupku. Dengan kata lain, saya tidak hanya ingat akan Allah di saat susah, sementara di saat senang, saya hanya tenggelam di dalam kegembiraan sesaat dan lupa akan Allah. Mungkin ini suatu kecenderungan bagi banyak orang beragama, yang hanya ingat akan Tuhan ketika penderitaan datang menimpa hidup mereka. Ada yang mulai rajin berdoa atau bergumul hanya ketika sakit menimpa, bencana alam melanda, dst. Sebaliknya di saat senang dan berkelebihan, Tuhan sama sekali tidak mendapat ruang di dalam hidupnya.

@ Pengalaman Paulus dan Silas di dalam Kisah Para Rasul justru berbeda dengan kecenderungan di atas. Sebagai pewarta Injil, baik suka maupun duka, mereka tetap mengandalkan Allah di dalam hidupnya. Hari ini kita membaca dan mendengar bahwa orang-orang Filipi bangun dan menentang Paulus dan Silas. Mereka mengoyakkan pakaian Paulus dan Silas dan menderanya berkali-kali dan selanjutnya memasukkan keduanya ke dalam penjara. Di dalam kesengsaraan ini, keduanya menyanyikan puji-pujian kepada Allah. Hal ini tentu saja kelihatan aneh. Biasanya kalau kita sedang melakukan kebaikan, dan penderitaan datang menimpa, sudah pasti hati kita menggerutu dan berteriak menghakimi Allah. Di manakah Allah? Mengapa penderitaan datang menimpa diri kita yang hari-hari ini berbuat baik? Ingat kisah Ayub. Dia yang selalu berbuat baik justru mendapat malu dan menanggung penderitaan yang tiada tara.

@ Sikap batin Paulus dan Silas dalam menghadapi penderitaan ini memang tampak “di luar yang biasa” atau bahkan aneh. Masakan memuji Allah di dalam penderaan yang mereka tanggung dan dalam kondisi terpenjara. Namun Allah mendengar ketulusan hati mereka. Bukan hanya dalam kesukaan/sukacita mereka memuji Allah. Bahkan di dalam penderitaan, mereka memuji dan bersyukur. Justru sikap batin seperti inilah yang mendatangkan MUKJIZAT dari Allah. Pintu-pintu penjara terbuka oleh kekuatan Allah. Rahmat turun beruntun. Kepala penjara justru bertobat dan memutuskan untuk dìpersatukan dengan Allah lewat pembaptisan.

@ Yesus sudah memprediksikan suasana macam mana yang bakal dialami para pengikut-Nya ketika Dia akàn meninggalkan mereka dan kembali kepada Bapa-Nya. Sudah tentu mereka kehilangan pegangan, ketiadaan harapan, panik, berbalik dan menghakimi Yesus yang tampak tak berdaya di hadapan algojo dan di atas salib. Semua euforia atas segala karya Yesus ketika masih berada dengan mereka, lenyap. Tidak ada iman yang tersisa. Hancur berantakan. Mereka lari pontang panting. Siapa yang harus disalahkan? Yesus tidak keliru ketika Dia menghardik Simon Petrus yang bereaksi difensive hendak membela Yesus (Mesias) yang tidak akan mungkin mengalami kemalangan (sesuai dengan pemahaman lama orang Yahudi waktu itu). Yesus tahu bahwa iblis akan selalu menina-bobokan kita untuk mencari kenyamanan dan kesenangan yang semu dan berusaha lari dari penderitaan. Sungguh, para murid akan mengalami kehilangan soko gurunya yang adalah kekuatan mereka pada waktu itu. Apalagi berhadapan dengan penjajah Romawi waktu itu. Maka, secara berulang-ulang kali di dalam wejangan akhir, Yesus menjanjikan dan meyakinkan para murid-Nya tentang kepergian-Nya dan utusan yang datang untuk menemani mereka. Yesus, setelah kepulangan-Nya ke Rumah Bapa, akan mengutus SANG PENGHIBUR – ROH KUDUS. Sang Penghibur inilah yang akan menemani mereka, baik dalam suka maupun dalam duka. Semuanya tergantung pada KEYAKINAN para pengikut Yesus akan kehadiran Sang Penghibur ini.

@ Paulus dan Silas adalah sosok yang patut kita teladani. Mereka sungguh yakin bahwa Yesus tidak meninggalkan mereka sendirian. Roh Kudus akan selalu hadir dan berperan di dalam hidup, bahkan di dalam penderitaan yang mereka jalani. Hal ini terbukti ketika mereka MENYANYIKAN PUJI-PUJIAN KEPADA ALLAH di dalam situasi penderitaan yang mencekam. Alhasil, mukjizat terjadi atas hidupnya. Satu dua pertanyaan untuk kita tujukan pada diri kita masing-masing: apakah saya sungguh yakin akan adanya Roh Kudus? Apakah saya sungguh mengandalkan Allah/Roh Kudus di dalam hidup, baik dalam suka maupun dalam duka? Apakah pernah di dalam penderitaan yang dialami, saya mengangkat hati dan memuji Allah dan bukan sebaliknya menggerutu, mengutuk-ngutuk, bersungut dan menghakimi Allah? Apakah saya sungguh mengandalkan KEADILAN ALLAH, yang sebaliknya tidak mengukur kebaikan Allah pada apa yang saya alami, baik untung maupun malang? Satu hal yang mesti saya( sebagai imam) dan saudara-saudari lakukan di dalam hidup: SUMARAH PADA TUNTUNAN ALLAH, baik dalam suka maupun di dalam duka. Have a blessed Tuesday, filled with love and compassion. Warm greetings from Masohi manise🙏🙏🙏🙏🙏🙏